PUPR Hadirkan Pilihan Hunian Efektif untuk Milenial

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seminar Indonesia Housing Forum di Hotel Sahid Jakarta. Rabu (19/06)

    Seminar Indonesia Housing Forum di Hotel Sahid Jakarta. Rabu (19/06)

    INFO NASIONAL — Kenaikan populasi generasi milenial yang signifikan menjadi perhatian pemerintah. Berdasarkan data pusat statistik, 30 persen dari total penduduk atau 81 juta jiwa adalah kalangan milenial. Diperkirakan melonjak hingga 60 persen pada 2020. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berupaya menjawab kebutuhan generasi tersebut dengan beragam pilihan hunian layak sesuai karakteristik mereka.

    Generasi milenial, kelahiran 1980 hingga 2000, atau di bawah usia 40 tahun untuk saat ini, memiliki kecenderungan mobilitas tinggi dan serba instan. Tempat tinggal berlokasi dekat pusat kegiatan bisnis atau layanan transportasi publik terpadu menjadi pilihan.

    Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR, Dr. Ir. H. Khalawi Abdul Hamid, menjabarkan kelompok umur milenial dengan kebutuhan hunian yang cocok. "Usia 25-29 tahun, biasanya single, cocok untuk rumah sewa, apartemen sewa. Lebih cocok lagi adalah TOD (Transit Oriented Development) sehingga mereka cepat ke tempat aktivitas. Rumah seperti ini harus dekat dengan terminal dan stasiun," ujarnya saat memberi kata sambutan pada Indonesia Housing Forum bertema "Penyediaan Hunian Millenial di Perkotaan Berkelanjutan" di Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu, 19 Juni.

    Kelompok kedua, usia 30-35 disiapkan apartemen sewa tipe 36. Menurut Khalawi, umur 30-an mulai memikirkan untuk berkeluarga atau bahkan sudah menikah, sehingga mereka mencari hunian dengan ruangan lebih banyak, memiki kamar tidur pribadi, kamar tidur anak, hingga dapur. Karena itu, tipe lebih besar menjadi pilihan ketimbang hunian berkonsep studio seperti kebutuhan kelompok umur pertama.

    "Di atas usia 36 mereka mulai mencari rumah atau apartemen yang beli, hak milik," ungkap Khalawi.

    Pandangan sejumlah kalangan yang khawatir kondisi rumah susun sewa (rusunawa) terkesan kumuh dan tak layak huni, dibantah Khalawi. "Rusunawa sekarang tak seperti dulu. Silakan datang ke wisma atlet, lihat di sana sudah seperti apartemen. Jadi, jangan bayangkan rumah susun seperti dulu, kelihatan jemuran berjejer di balkon," klaimnya.

    Bagi milenial, terdapat beberapa cara guna memiliki hunian yang didambakan, baik hunian vertikal seperti rumah susun dan apartemen, maupun rumah tapak. PUPR telah menjalin kerja sama dengan sejumlah stakeholder sejak program sejuta rumah (PSR) dicanangkan pada 2015. Pembiayaan berupa Kredit Perumahan Rakyat (KPR) masih menjadi andalan. Tiga tahun silam PUPR juga telah merilis Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) agar semua milenial, dari kalangan MBR (masyarakat berpenghasilan rendah) ataupun non-MBR kian mudah mewujudkan mimpi memiliki rumah.

    Paparan Khalawi disetujui Yuswohady, penulis buku Millenials Kill Everything. Menurutnya, perubahan budaya milenial yang serba digital life akhirnya harus mampu dijawab, salah satunya dengan kehadiran hunian vertikal konsep TOD.

    Yushowady beserta Maryono SE, MM, Dr. yayat Supriatna, dan Ir. Budi Suanda menjadi pembicara pada sesi talkshow di acara tersebut. Mereka membahas dan menampung berbagai pertanyaan dari milenial yang hadir, antara lain dari PII (Persatuan Insinyur Indonesia) dan Keluarga Alumni Teknik Sipil Gadjah Mada (Katsgama). (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.