Atalia Jamin Proses Hukum Pelecehan Seksual Remaja Disabilitas Berlanjut

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat yang juga Ketua Umum Jabar Bergerak, Atalia Praratya Kamil, berkunjung ke rumah remaja  penyandang disablitas yang menjadi korban pelecehan seksual, berinisial SW, di Kabupaten Bandung Barat, Kamis , 20 Juni 2019.

    Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat yang juga Ketua Umum Jabar Bergerak, Atalia Praratya Kamil, berkunjung ke rumah remaja penyandang disablitas yang menjadi korban pelecehan seksual, berinisial SW, di Kabupaten Bandung Barat, Kamis , 20 Juni 2019.

    INFO JABAR — Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat yang juga Ketua Umum Jabar Bergerak, Atalia Praratya Kamil, berkunjung ke rumah remaja penyandang disablitas yang menjadi korban pelecehan seksual, berinisial SW, di Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 20 Juni 2019. "Kami hadir untuk melihat sejauh mana perkembangan kasus ini," kata Atalia.

    Pelecehan seksual diduga terjadi  saat korban SW mengikuti pelatihan di Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas (BRSPD) Dinsos Jawa Barat. SW adalah penyandang disabilitas rungu dan wicara berumur 15 tahun. Diduga pelakunya adalah oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) yang diperbantukan di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jawa Barat, berinisial SR, berusia 50 tahun.

    Atalia mengatakan, pihaknya akan terus memonitor perkembangan kasus itu. "Saya minta korban terus didamping dan jangan lepas dari pengawasan," ujarnya.

    Untuk mencegah insiden serupa, Atalia berharap ada perbaikan dalam pembagian pendamping siswa di BRSPD selama kegiatan pelatihan. "Saya mendapat info kalau proses pelatihan selama delapan bulan mengharuskan siswa menginap. Sementara, ada laki-laki (lawan jenis) yang bisa langsung berinteraksi. Mereka (siswa) ini rata-rata dari berbagai latar belakang, tentu ini wajib jika para pendamping adalah dari gender yang sama," katanya.

    Ibu korban, S, mengatakan bahwa anaknya menginap di mes BRSPD selama mengikuti pelatihan. Pelatihan itu dimulai pada Maret hingga awal November 2019, hanya boleh dijenguk orang tua pada dua sampai tiga bulan sekali.

    Pihak berwajib kini masih mengumpulkan alat bukti dan keterangan saksi-saksi, sehingga belum bisa menetapkan status hukum terhadap terduga. Namun, Atalia Praratya menjamin proses hukum akan terus berlanjut. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.