Besok, Wiranto Akan Bertemu Muzakir Manaf

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menkopolhukam Wiranto menggelar open house di rumah dinasnya, Jalan Denpasar Raya, Jakarta Selatan, Rabu, 5 Juni 2019. TEMPO/Irsyan Hasyim

    Menkopolhukam Wiranto menggelar open house di rumah dinasnya, Jalan Denpasar Raya, Jakarta Selatan, Rabu, 5 Juni 2019. TEMPO/Irsyan Hasyim

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menyebut dirinya akan bertemu Eks Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Muzakir Manaf alias Mualem, besok, Selasa, 18 Juni 2019.

    Baca juga: Soal Referendum Aceh, Begini Sikap Menhan Ryamizard

    "Sebetulnya hari ini saya menerima saudara Mualim dari Aceh, tapi sementara tertunda karena masalah transportasi. Besok rencananya saya terima," ujar Wiranto di kantornya, Jakarta
    pada Senin, 17 Juni 2019.

    Namun, Wiranto menyebut bahwa dirinya tidak akan membahas soal wacana referendum Aceh yang sempat bergulir beberapa waktu lalu. "Referendum kan sudah selesai, dia juga sudah minta maaf serta mencabut pernyataannya," ujar Wiranto.

    Pertemuan esok hari, ujar Wiranto, akan membahas hal-hal yang menyangkut partisipasi masyarakat Aceh dalam pembangunan nasional saja.

    Siang tadi, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo juga sebetulnya diagendakan menerima kunjungan Mualem di Gedung A Kantor Pusat Kemendagri, Jakarta. Namun pertemuan itu juga ditunda.

    Sebelumnya, Muzakir Manaf telah mengklarifikasi pernyataannya ihwal referendum Aceh sebelumnya. Klarifikasi ini disampaikan melalui video berdurasi 2 menit yang beredar melalui media sosial.

    Melalui sambungan telepon dengan Tempo, staf khusus Muzakir yang bernama Marzuki AR alias Wien Rimba Raya mempersilakan mengutip ucapan Muzakir dalam video itu. "Yang pertama, bahwa pernyataan saya tentang referendum tidak mewakili rakyat Aceh. Saya melakukan hal tersebut secara spontan," kata Muzakir Manaf lewat video tersebut.

    Berikutnya, pria yang akrab disapa Mualem ini mengaku menyadari bahwa rakyat Aceh saat ini cinta damai dan pro terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dia juga berharap Provinsi Aceh ke depan semakin maju dalam bingkai NKRI.

    Baca juga:  Moeldoko Soal Referendum Aceh: Ingat Konsekuensi Yuridisnya

    Adapun yang terakhir, Muzakir mengatakan akan terus mendorong untuk menuntaskan butir-butir nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) Helsinki.

    Menurut Marzuki, pernyataan Muzakir itu dalam kerangka keinginan agar Aceh lebih maju. Dia pun menyebut wajar saja seorang mantan pejuang Aceh menginginkan kemajuan bagi provinsi Serambi Mekkah ini. "Tapi kalau soal kesetiaan kepada republik, Aceh enggak usah diragukan. Hanya saja kan wajar seorang pejuang menginginkan Aceh lebih maju," ujar Marzuki.

    Perihal referendum itu diungkapkan Muzakir Manaf saat peringatan ke-9 wafatnya Wali Neugara Aceh, Paduka Yang Mulia Teuku Muhammad Hasan Ditiro di Gedung Amel, Banda Aceh, Senin, 27 Mei 2019. Mantan Wakil Gubernur Aceh itu menyerukan masyarakat Aceh segera melakukan referendum menentukan tetap atau lepas dari Indonesia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.