Wiranto: Pemerintah akan Bikin Lapas Khusus di Pulau Terpencil

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terpidana kasus korupsi e-KTP Setya Novianto melambaikan tangannya dari mobil tahanan setelah menjalani pemeriksaan, di gedung KPK, Jakarta, Selasa, 14 Mei 2019. Setya Novanto diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Sofyan Basir terkait dugaan suap kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan proyek PLTU Riau-1. ANTARA

    Terpidana kasus korupsi e-KTP Setya Novianto melambaikan tangannya dari mobil tahanan setelah menjalani pemeriksaan, di gedung KPK, Jakarta, Selasa, 14 Mei 2019. Setya Novanto diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Sofyan Basir terkait dugaan suap kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan proyek PLTU Riau-1. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinasi Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengatakan, pemerintah saat ini sudah memiliki rencana membuat satu lembaga pemasyarakatan (lapas) khusus untuk koruptor, narkotika, para pelaku terorisme, di suatu pulau terpencil. "Sudah ada pemikiran dan rencana itu,” kata Wiranto menyusul kasus pelesiran napi koruptor yang Setya Novanto menjalani medical check up di RS Santosa, pada Jumat, 14 Juni 2019.

    Menurut Wiranto, pemerintah bahkan sudah memikirkan untuk menggunakan pulau-pulau terpencil yang jumlahnya banyak sebagai lapas khusus. “Kalau ‘dipulaukan’, masak dia mau berenang? Kan enggak bisa."

    Baca juga: Setya Novanto Dipindah ke Lapas Gunung Sindur, One Man One Cell

    Sudah dipertimbangkan, rencana itu harus dimatangkan dan memerlukan dukungan kebijakan. "Sekarang jadi bahan pemikiran kita bagaimana kita melakukan perubahan-perubahan, dinamika, sehingga bisa menetralisir kekurangan," ujar Wiranto.

    Narapidana kasus korupsi proyek Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) Setya Novanto kabur dari Rumah Sakit Santosa Bandung, Jawa Barat pada Jumat, 14 Juni 2019. Kepala Kantor Wilayah Jawa Barat Liberti Sitinjak mengatakan kejadian ini berawal ketika Setya Novanto dirawat di RS Santosa Bandung sejak 12 Juni. “Dia diopname karena lengannya bermasalah," kata Liberti saat dihubungi Tempo, Jumat, 14 Juni 2019.

    Pada Jumat, 14 Juni 2019, Setya sebenarnya dijadwalkan keluar dari rumah sakit. Ketika akan kembali ke lapas, kata Liberti, Setnov berdalih akan membayar rekening di lantai dasar. Setya dirawat di lantai 8. Mantan Ketua Umum Golkar itu berdalih akan membayar ongkos rumah sakit ketika ditanya pengawal. Pengawal membiarkannya dan menunggu di lantai 8. Tunggu punya tunggu, Setya tak muncul-muncul. “Pengawalnya ke bawah, ternyata orangnya tidak ada" ujar Liberti.

    Baca juga: Selain Setnov, 4 Napi Ini Kepergok Jalan-jalan ke Luar Lapas

    Staf yang ditugaskan menjaga Setya melaporkannya kepada Kepala Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, yang kemudian diteruskan kepada Liberti. Setya ditemukan di daerah Padalarang sekitar pukul 18.00. "Dia pelesiran ke Padalarang. Dia di sana sama istrinya," kata Liberti. Ia sempat berada di Padalarang selama tiga sampai empat jam.

    Liberti memindahkan Setya ke Lapas Gunung Sindur dan akan menempatkannya ke lapas supermaksimum. "Malam ini, 22.15 WIB berangkat ke Gunung Sindur," kata tadi malam.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.