Pelaku Bom Kartasura Nyaris Merekrut Orang Tuanya

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi melakukan penjagaan saat penggeledahan rumah pelaku peledakan Pospam Kartasura di dusun Kranggan, Wirogunan, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Selasa, 4 Juni 2019. Ledakan bom Kartasura, Sukoharjo menyebabkan satu orang terluka cukup parah, korban diduga pelaku peledakan. ANTARA

    Polisi melakukan penjagaan saat penggeledahan rumah pelaku peledakan Pospam Kartasura di dusun Kranggan, Wirogunan, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Selasa, 4 Juni 2019. Ledakan bom Kartasura, Sukoharjo menyebabkan satu orang terluka cukup parah, korban diduga pelaku peledakan. ANTARA

    TEMPO.CO, SOLO-Tersangka pelaku bom pos polisi Kartasura atau bom Kartasura, Rafik Asharudin beraksi secara lone wolf dan tidak memiliki jaringan. Namun, dia sempat berupaya merekrut keluarganya untuk mengikuti pandangan radikalnya.

    BACA: Kejanggalan Pelaku Bom Kartasura Sebelum Menyerang

    "Sempat mengajak ibu dan kakaknya," kata Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah Rycko Amelza di Solo, Rabu 5 Juni 2019. Namun keluarga tidak mau mengikutinya lantaran menganggap ajaran yang diyakini Rofik tidak sesuai dengan ajaran agama.

    Apalagi, sikap Rofik memang sangat tertutup selama beberapa tahun terakhir. Dia bahkan juga sangat tertutup terhadap orang tua dan keluarganya. "Orang tua tidak mengetahui kesehariannya," katanya.

    BACA: Pelaku Bom Kartasura Beli Komponen Minta Uang Orang Tua

    Rofik sendiri diketahui tidak masuk dalam jaringan teroris manapun. Meski demikian, dia justru langsung menjalin komunikasi dengan tokoh ISIS melalui media sosial. "Dia berkomunikasi dengan Al Baghdadi," kata Rycko.

    Usai berbaiat, Rofik lantas berupaya membuat rangkaian bom di rumahnya yang masih ikut orang tuanya. Dia juga sering meminta uang kepada keluarganya yang ternyata digunakan untuk membeli peralatan elektronik untuk membuat bom.

    "Kami mengimbau para orang tua untuk mengawasi anak-anaknya," katanya. Kasus yang terjadi pada Rofik membuktikan bahwa seorang anak bisa terpapar radikalisme meski berada di dalam rumah.

    Baca berita tentang Bom Kartasura lainnya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.