NU: Idul Fitri Tepat Jadi Momentum Rekonsiliasi Pasca Pemilu

Reporter:
Editor:

Ahmad Faiz Ibnu Sani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mayarakat Kampung Anti Hoax, mengenakan penutup wajah bergambar Capres nomor urut 01 Joko Widodo alias Jokowi, dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto saat aksi Ruwatan Indonesia di Solo, Jawa Tengah, Rabu, 24 April 2019. Aksi tersebut digelar sebagai syukuran pelaksanaan pesta demokrasi Pemilu 2019. ANTARA/Maulana Surya

    Mayarakat Kampung Anti Hoax, mengenakan penutup wajah bergambar Capres nomor urut 01 Joko Widodo alias Jokowi, dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto saat aksi Ruwatan Indonesia di Solo, Jawa Tengah, Rabu, 24 April 2019. Aksi tersebut digelar sebagai syukuran pelaksanaan pesta demokrasi Pemilu 2019. ANTARA/Maulana Surya

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas menilai momen Idul Fitri 1440 Hijriah besok adalah saat yang tepat untuk halal bi halal nasional, atau rekonsiliasi nasional pasca Pemilu. Karena menurutnya secara sosial fitri atau fitrah berarti hidup harmoni, bersatu, guyub, dan rukun.

    Menurut dia kompetisi dalam pemilu telah mengendorkan persaudaraan sesama anak bangsa. "Tepat apabila Idul Fitri 1440 H ini kita jadikan momentum halal bi halal nasional (rekonsiliasi nasional) usai gawe nasional pemilu," tutur Robikin saat dihubungi, Selasa 4 Juni 2019.

    Ia menyebut momentum Idul Fitri sebagai rekonsiliasi nasional juga bukan berarti mengkompromikan perbedaan-perbedaan nilai dan persepsi mengenai penyelenggaraan dan hasil pemilu yang kini disengketakan di Mahkamah Konstitusi (MK).

    Baca: MUI Minta Khatib Idul Fitri Ajak Umat Bersilaturahmi Usai Pemilu

    "Saya yakin publik akan menaruh rasa hormat setinggi-tingginya kepada segenap komponen bangsa yang turut aktif mewujudkan terlaksananya rekonsiliasi nasional tersebut. Baik kepada Pak Prabowo, maupun Pak Jokowi," ucap dia.

    Sebelumnya pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, menilai rekonsiliasi antara Calon Presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi dengan calon presiden Prabowo Subianto harus segera dilakukan.

    Adi menilai yang paling penting adalah kedua capres bisa menunjukkan kerendahan hati untuk segera bertemu. Tak lama setelah pilpres berakhir, Jokowi sempat mengutus Luhut Binsar Pandjaitan untuk memediasi pertemuan. Namun hingga saat ini, belum ada tanda-tanda pertemuan akan dilakukan.

    "Yang paling penting tentu kemauan dua tokoh itu untuk segera bertemu, minum teh, dan makan nasi goreng bersama, seperti yang sering dilakukan sebelum pilpres," ujar Adi saat dihubungi Tempo, Sabtu, 25 Mei 2019.

    Baca juga: Prabowo Belum Tentu Bertemu Jokowi pada Momen Idul Fitri

    Namun calon presiden 02, Prabowo Subianto belum tentu akan bertemu dengan calon presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi pada momentum Idul Fitri tahun ini. Juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga Uno, Andre Rosiade, mengatakan kedua tokoh itu bisa saja bersua setelah lebaran.

    Prabowo sendiri belum memastikan kapan dirinya akan bertemu dengan Jokowi. Ia hanya menyebut akan ada waktunya mereka bertemu. "Nanti kita lihat ya, semuanya ada waktunya," kata dia usai bertakziah di rumah almarhumah Kristiani Herrawati atau Ani Yudhoyono, Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Senin, 3 Juni 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Modus Sejumlah Kepala Daerah dan Pejabat DPD Cuci Uang di Kasino

    PPATK menyingkap sejumlah kepala daerah yang diduga mencuci uang korupsi lewat rumah judi. Ada juga senator yang melakukan modus yang sama di kasino.