Anak Tersangka Kasus Senjata Ilegal: Ibu Aktif Mendukung Prabowo

Reporter:
Editor:

Philipus Parera

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim Kuasa Hukum dan Sejunlah Purnawurawan menyampaikan pembelaan untuk mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Jhusu Mayor Jenderal Tentara Nasionak Indonesia (Purn) Soenarko yang ditahan atas tuduhan kepemilikan senjata ilegal di Jakarta, Jumat 31 Mei 2019. Tempo/Budiarti Utami Putri

    Tim Kuasa Hukum dan Sejunlah Purnawurawan menyampaikan pembelaan untuk mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Jhusu Mayor Jenderal Tentara Nasionak Indonesia (Purn) Soenarko yang ditahan atas tuduhan kepemilikan senjata ilegal di Jakarta, Jumat 31 Mei 2019. Tempo/Budiarti Utami Putri

    TEMPO.CO, Jakarta - Anak salah seorang tersangka kepemilikan senjaga ilegal dalam kasus rencana pembunuhan empat tokoh nasional,  Bayu Putra Harfianto, mengatakan bahwa ibunya Asmaizulfi alias AF adalah Ketua Gempur (Gerakan Emak-emak Peduli Rakyat). Gempur merupakan organisasi sayap pendukung pasangan calon presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno. Selain ibunya, kata dia, dalam ayahnya Mayor Jenderal (Purn) Moerwanto juga mendukung Prabowo Subianto dalam pemilihan presiden lalu.

    Baca: Kata Mabes Polri Soal Penangguhan Penahanan Soenarko

    "Saya sama adik nomor tiga dukung Joko Widodo. Kalau yang bungsu kan belum nyoblos. Waktu nyoblos 17 April kemarin pun, saya pilih Jokowi," kata Bayu saat ditemui di Kompleks Zeni-AD Rawajati, Jakarta Selatan, Senin, 3 Juni 2019.

    Menurut dia, ibunya memang aktif terlibat politik, walaupun Gempur juga kadang mengadakan kegiatan sosial. Bayu menyebutkan biasanya ibunya dan anggota Gempur yang lain membuat kue dan menjualnya untuk membiayasi kegiatan komunitas mereka.

    "Tapi kalau ibu disebut merencanakan pembunuhan tokoh saya nggak yakin ya, karena walaupun ikut aksi sejak Aksi 212 tapi nggak pernah gimana-gimana. Aksi 212 saja kan berlangsung damai," ungkap dia.

    Ia juga bercerita ibunya selalu bertukar pikiran mengenai kondisi politik Indonesia. Kalau memang ibu pendukung garis keras, kata Bayu, pastinya dia dan adiknya bakal dipaksa mendukung Prabowo. "Nyatanya keluarga kami tetap demokratis, kalau pun benar ibu merencanakan pembunuhan terhadap tokoh maka saya pasti orang pertama yang tahu dan bakal melarang," ungkap dia.

    Baca juga: Demokrat Tak Lagi Persoalkan Ucapan Prabowo Soal Ani Yudhoyono

    Saat ini, Fifi bersama enam tersangka lainnya ditahan di Polda Metro Jaya karena kepemilikan senjata ilegal. Keenam orang lainnya, salah satunya Mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn.) Kivlan Zen. Mereka dijerat dengan pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang senjata api dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

    Para tersangka disebut menunggangi kerusuhan 22 Mei untuk melakukan aksinya. Masing-masing mereka memiliki peran berbeda,  mulai dari sebagai penjual senjata api hingga perekrut eksekutor dan eksekutor.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.