Polisi Tangkap Penyebar Hoaks Penyerangan Masjid di Petamburan

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo (kanan) bersama Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagperum) Divisi Humas Polri, Kombes Pol Asep Adi Saputra saat menggelar konferensi pers terkait aksi teror yang terjadi di Indonesia di Gedung Divisi Humas Polri, Jakarta Selatan, Senin, 6 Mei 2019. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo (kanan) bersama Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagperum) Divisi Humas Polri, Kombes Pol Asep Adi Saputra saat menggelar konferensi pers terkait aksi teror yang terjadi di Indonesia di Gedung Divisi Humas Polri, Jakarta Selatan, Senin, 6 Mei 2019. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian menangkap Fitriadin, tersangka pelaku penyebar hoaks tentang penyerangan masjid di Petamburan terkait kerusuhan 22 Mei. Polisi menyangka dia menyebarkan kabar bohong itu via akun Facebook Adi Bima yang ia kelola.

    Baca juga: Tersangka Penyebar Video Hoaks Kapolri dan Panglima TNI Diringkus

    "Ia diduga menyebarkan hoaks penyerangan masjid di daerah Petamburan, Jakarta Barat melalui Fecebook," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat, Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo dalam keterangan tertulis, Senin, 3 Juni 2019.

    Dedi menuturkan, dari hasil interogasi, foto masjid yang ia unggah tidak berada di Indonesia, melainkan di Sri Lanka. Tersangka, kata dia, menyebarkan info palsu itu atas inisiatif sendiri. Alasannya, dia adalah pendukung salah satu pasangan calon presiden di pilpres 2019. Selain itu, ia juga mengaku tersulut emosi oleh peristiwa kerusuhan di Jakarta pada 21 dan 22 Mei 2019.

    Dedi menuturkan Direktorat Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal Polri menangkap Fitriadin di pintu tol Lenteng Agung, Jakarta Selatan pada 30 Mei 2019 pukul 12.30. Polisi menyita barang bukti sebuah ponsel Xiaomi Redmi 5A dan sebuah SIM card.

    Dia disangka melakukan tindak pidana berupa menyebarkan informasi untuk menimbulkan rasa kebencian kepada individu kelompok berdasarkan suku, ras dan agama serta menyiarkan berita bohong untuk membuat keonaran di masyarakat.

    Baca: Bareskrim Polri Tangani 10 Kasus Hoaks Terbaru, Ini Tersangkanya

    Polisi menjeratnya dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik serta UU Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana dengan hukuman maksimal 10 tahun penjara atau dan/atau denda maksimal Rp 1 miliar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.