KPK Duga 2 WNA Terlibat Suap Pejabat Imigrasi Mataram

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Seksi Intelejen dan Penindakan Kantor Imigrasi Kelas I Mataram Yusriansyah Fazrin, resmi memakai rompi tahanan sambil menutupi wajahnya seusai menjalani pemeriksaan pasca terjaring Operasi Tangkap Tangan, di gedung KPK, Jakarta, Rabu, 29 Mei 2019 dini hari. OTT ini terkait tindak pidana korupsi dugaan kasus suap terkait penyidikan tentang penyalahgunaan Izin Tinggal Warga Negara Asing di lingkungan kantor Imigrasi Nusa Tenggara Barat Tahun 2019. TEMPO/Imam Sukamto

    Kepala Seksi Intelejen dan Penindakan Kantor Imigrasi Kelas I Mataram Yusriansyah Fazrin, resmi memakai rompi tahanan sambil menutupi wajahnya seusai menjalani pemeriksaan pasca terjaring Operasi Tangkap Tangan, di gedung KPK, Jakarta, Rabu, 29 Mei 2019 dini hari. OTT ini terkait tindak pidana korupsi dugaan kasus suap terkait penyidikan tentang penyalahgunaan Izin Tinggal Warga Negara Asing di lingkungan kantor Imigrasi Nusa Tenggara Barat Tahun 2019. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga dua warga negara asing terlibat dalam kasus suap Kepala Kantor Imigrasi Klas I Mataram, Kurniadie. KPK telah melaporkan keduanya ke komisi antirasuah negaranya masing-masing. "Jelas ini penyuapan pada pejabat publik," kata Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata di kantornya, Jakarta, Selasa, 28 Mei 2019.

    Baca: Usai Diperiksa KPK, Kepala Kantor Imigrasi Mataram Bungkam

    Dua WNA itu hanya diketahui inisialnya yakni BGW dan MK. Mereka berasal dari Australia dan Singapura. Alex mengatakan keduanya merupakan pemilik salah satu resort di Lombok. "Tentu kami akan berkoordinasi dengan KPK Singapura dan otoritas Australia untuk melaporkan kedua WN tersebut," katanya.

    Pada 22 Mei 2019, Kantor Imigrasi Mataram menetapkan BGW dan MK menjadi tersangka penyalahgunaan izin tinggal. Mereka diduga menggunakan izin tinggal turis biasa untuk bekerja di Wyndham Sundancer Lombok.

    Merespon hal itu,  Direktur PT Wisata Bahagia Liliana Hidayat berupaya mencari cara untuk melepaskan dua WNA tersebut. Liliana kemudian bernegosiasi dengan Kepala Seksi Intelijen dan Penindakan Kantor Imigrasi Klas I Mataram Yusriansyah Fazrin hingga disepakati harga Rp 1,2 miliar untuk melepas BGW dan MK.

    Dalam proses negosiasi, Yusriansyah diduga berkoordinasi dengan Kurniadie. KPK menyangka Kurniadie juga menerima bagian dari duit Rp 1,2 miliar.

    Setelah penyerahan uang itu, Kantor Imigrasi Mataram mengembalikan paspor milik BGW dan MK. Keduanya kini sudah kembali ke negara masing-masing.

    Baca: KPK Tetapkan Kepala Kantor Imigrasi Mataram Tersangka Suap

    Mendapatkan informasi soal penyerahan duit itu, KPK mencokok Kurniadie, Yusriansyah dan Liliana dalam operasi senyap di NTB 21 Mei hingga 22 Mei 2019. KPK menetapkan Kurniadie dan Yusriansyah menjadi tersangka penerima suap. Adapun Liliana ditetapkan menjadi tersangka pemberi suap.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sulli dan Artis SM Entertaintment yang juga Tewas Bunuh Diri

    Sulli, yang bernama asli Choi Jin-ri ditemukan tewas oleh managernya pada 14 Oktober 2019. Ada bintang SM lainnya yang juga meninggal bunuh diri.