BW Pernah jadi Tersangka, Yusril: Tidak akan Kami Persoalkan

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua tim hukum Jokowi-Ma'ruf, Yusril Ihza Mahendra, bersama jajaran Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Arsul Sani, Ade Irfan Pulungan, dan Juri Ardiantoro, usai berkonsultasi dengan panitera MK mengenai teknis permohonan sebagai pihak terkait dalam perkara perselisihan hasil Pilpres 2019, di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, 27 Mei 2019. Tempo/Friski Riana

    Ketua tim hukum Jokowi-Ma'ruf, Yusril Ihza Mahendra, bersama jajaran Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Arsul Sani, Ade Irfan Pulungan, dan Juri Ardiantoro, usai berkonsultasi dengan panitera MK mengenai teknis permohonan sebagai pihak terkait dalam perkara perselisihan hasil Pilpres 2019, di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, 27 Mei 2019. Tempo/Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua tim hukum Joko Widodo alias Jokowi-Ma'ruf, Yusril Ihza Mahendra, mengatakan tak akan mempersoalkan kasus pidana yang pernah menjerat Ketua tim kuasa hukum Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Bambang Widjojanto alias BW.

    Baca juga: Hadapi Yusril di Sidang Gugatan Pilpres, Ini Kata Denny Indrayana

    "Jadi siapapun advokat yang diajukan Prabowo-Sandi, insya Allah tidak akan kami persoalkan, tidak kami tanyakan, kami terima apa adanya," kata Yusril di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Senin, 27 Mei 2019.

    Yusril mengatakan akan menghormati para kuasa hukum Prabowo-Sandi dalam persidangan sengketa hasil pemilihan presiden (pilpres) 2019 di MK. "Jadi dari pihak kami menghormati. Sesama advokat, teman sejawat hormat menghormati satu dengan yang lain," ujarnya.

    Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga resmi menunjuk mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bambang Widjojanto, sebagai Ketua tim hukum Prabowo-Sandi.

    Bambang pernah berurusan dengan hukum saat dirinya ditangkap oleh Badan Reserse Kriminal Polri pada 2015 atas dugaan menyuruh saksi memberikan keterangan palsu dalam sengketa Pilkada Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, di Mahkamah Konstitusi 2010.

    Baca juga: Yusril Ihza: Mengaku Presiden Bisa Dikategorikan Kejahatan

    Penangkapan itu memicu munculnya Cicak vs Buaya jilid kedua. Kasus BW itu lalu dikesampingkan demi kepentingan umum (deponering) oleh Jaksa Agung.

    Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Bambang Widjojanto membantah telah menyuruh sejumlah saksi memberikan keterangan palsu dalam sidang di Mahkamah Konstitusi (MK) 2010 silam. "Yang saya lakukan adalah apa yang biasanya dilakukan pengacara lain, legal consulting," ujar Bambang usai sekitar 12 pemeriksaan di Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, Selasa(3/2/2015).

    Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bambang Widjojanto Bantah Suruh Saksi Berikan Keterangan Palsu", https://nasional.kompas.com/read/2015/02/04/00443351/Bambang.Widjojanto.Bantah.Suruh.Saksi.Berikan.Keterangan.Palsu.
    Penulis : Fabian Januarius Kuwado

    "Yang saya lakukan adalah apa yang biasanya dilakukan pengacara lain, legal consulting," ujar Bambang

    Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bambang Widjojanto Bantah Suruh Saksi Berikan Keterangan Palsu", https://nasional.kompas.com/read/2015/02/04/00443351/Bambang.Widjojanto.Bantah.Suruh.Saksi.Berikan.Keterangan.Palsu.
    Penulis : Fabian Januarius Kuwado

    "Yang saya lakukan adalah apa yang biasanya dilakukan pengacara lain, legal consulting," ujar Bambang

    Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bambang Widjojanto Bantah Suruh Saksi Berikan Keterangan Palsu", https://nasional.kompas.com/read/2015/02/04/00443351/Bambang.Widjojanto.Bantah.Suruh.Saksi.Berikan.Keterangan.Palsu.
    Penulis : Fabian Januarius Kuwado


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cerita Saksi Soal Kebararan Pabrik Korek Api di Desa Sambirejo

    Inilah cerita saksi tentang kebakaran pabrik korek api gas di Desa Sambirejo, Langkat, Sumatera Utara memakan korban sampai 30 jiwa.