Said Aqil Sebut Seruan Jihad untuk Aksi 22 Mei Tidak Tepat

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj (kiri), memberikan keterangan saat konferensi pers di Kantor PBNU, Jakarta, Jumat, 19 April 2019. PBNU dan Lembaga Persaudaraan Ormas Islam (LPOI) menghimbau seluruh umat muslim dan masyarakat agar bersabar menunggu hasil resmi pemilu 2019 dari KPU. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj (kiri), memberikan keterangan saat konferensi pers di Kantor PBNU, Jakarta, Jumat, 19 April 2019. PBNU dan Lembaga Persaudaraan Ormas Islam (LPOI) menghimbau seluruh umat muslim dan masyarakat agar bersabar menunggu hasil resmi pemilu 2019 dari KPU. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj menyayangkan seruan jihad yang yang dipakai untuk menggerakkan massa pada Aksi 22 Mei 2019 oleh Front Pembela Islam dan Persatuan Alumni 212.

    Baca juga: Said Aqil Imbau Masyarakat Tak Lakukan Gerakan Inkonstitusional

    Said mengatakan jihad itu artinya luas. Salah satunya, kata dia, adalah membangun agar masyarakat maju, adil, dan makmur.

    "Bukan hanya perang. Perang adalah salah satu bentuk jihad kalau memang keadaan perang," ujar Said di Kantor PBNU, Jalan Salemba, Jakarta Pusat, Kamis, 23 Mei 2019.

    Menurut dia, dalam kondisi damai yang terpenting itu jihad sosial, pendidikan, peradaban, budaya serta prestasi. Said menyampaikan kebrutalan dalam unjuk rasa bertentangan dengan arti jihad.

    "Jihad membangun masyarakat muslim atau pun non muslim," ujar dia.

    Said Aqil juga menyayangkan pelibatan anak-anak dan perempuan dalam aksi massa 22 Mei yang berujung kerusuhan. "Kasihan anak-anak dijadikan tumbal, perempuan juga," kata dia.

    Baca juga: Cerita Said Aqil Tak Usulkan Ma'ruf Amin Jadi Cawapres Jokowi

    Sebelumnya, Cendekiawan muslim Quraish Shihab memberikan pesan kepada Front Pembela Islam (FPI) yang turut bergabung dalam aksi 22 Mei 2019. Quraish mengatakan agar kelompok organisasi masyarakat, termasuk FPI, tetap mengingat arti berjihad.

    "Jihad itu dari segi bahasa berarti mengerahkan semua daya. Mengerahkan daya pikir, jihad. Fisik, jihad. Mengendalikan nafsu, jihad. Menulis, jihad. Semua arahnya untuk kebaikan," kata Quraish dalam jumpa pers Gerakan Suluh Kebangsaan di Jakarta, Kamis, 23 Mei 2019.

    Bersama jajaran anggota Gerakan Suluh Kebangsaan dan ketuanya, Mahfud MD, Quraish mengatakan bahwa tidak ada tindakan berjihad untuk mencapai kebaikan kecuali hal itu dibenarkan.

    "Saya garis bawahi, kalau ada kebaikan yang melalui sesuatu yang buruk, hindari. Karena kita harus mendahulukan menghindarkan keburukan daripada memperoleh manfaat," kata Quraish.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.