Mengingat Seruan Bung Karno Soal Persatuan di Alam Demokrasi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pidato Soekarno tentang Malaysia di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 28 Juli 1963. Dok. Perpusnas RI

    Pidato Soekarno tentang Malaysia di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 28 Juli 1963. Dok. Perpusnas RI

    TEMPO.CO, Jakarta - Orasi Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno alias Bung Karno menyinggung soal persatuan dan kesatuan golongan serta partai politik di alam demokrasi saat peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Aktor dan sutradara teater Wawan Sofwan menampilkan monolog pidato Bung Karno di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Senin malam, 20 Mei 2019. Isinya mengutip pidato Bung Karno tentang Kebangkitan Nasional pada 1958 dan 1963 di Alun-alun Bandung.

    Baca juga: Sisi Lain Bung Karno, Ada Tumpukan Buku di Kamar Mandinya

    “Saudara-saudara, aku ganbarkan perjuanagn kita sejak 1908 sampai sekarang ini sebagai satu sungai. Gambaran lain adalah satu perjalanan kita mencari diri kita sendiri. Dalam 50 tahun ini kita mencari diri kita sendiri, mencari kepribadian, own identitiy. Kita tidak mau menjadi bangsa peniru, penjiplak, kita mau menjadi satu bangsa Indonesia dengan kepribadian corak sendiri. Tidak mau kita menjadi satu bangsa satelit, pembebek, peniru, penjiplak. Identitas dan kepribadian inilah yang kita sebut dengan Pancasila. Pancasila itu jiwa kita.

    Tapi saudara-saudara saya peringatkan semuanya, janganlah seperti negara lain. Indonesia adalah satu nation. Satu negara yang berjuang. Negara kita adalah alat perjuangan, alat untuk membina masyarakat adil dan makmur, alat untuk menghabisi tiap-tiap penyakit dari dalam, kita berjalan terus dengan alat ini. Penduduk Nusantara cikal bakal negara Indonesia menjadi satu bangsa dan tidak dibagi-bagi.”

    Menurut Bung Karno, bangsa Indonesia adalah kesatuan dari barat sampai kepulauan timur. Imperialisme memecah belah kesatuan itu lewat adu domba. Antar suku dibuat saling membenci, pun antar golongan. “Persatuan dan kesatuan adalah satu-satunya cara agar bangsa ini lepas dari hinaan serta penindasan bangsa lain.

    Saudara-saudara, bangsa Indonesia ini seperti sapu lidi yang terdiri dari beratus-ratus lidi. Jika tidak diikat akan tercerai berai, tidak berguna dan mudah dipatahkan. Tetapi jikalau lidi-lidi itu digabungkan, diikat, menjadi satu, mana ada manusia yang bisa mematahkan sapu lidi yang sudah diikat. Tidak ada saudara-saudara. Jikalau kita bersatu, jikalau kita rukun, kita menjadi kuat kesatuan sikap dan tindakan.”

    Menurut Bung Karno, organisasi politik modern mulai berkembang sejak berdirinya Boedi Oetomo dan terus berkembang hingga pasca kemerdekaan. Melalui organisasi itu bangsa Indonesia perlahan mulai menyadari pentingnya persatuan dan kesatuan untuk mewujudkan kemerdekaan. “Saya menilai demokrasi telah membangun situasi dimana setiap orang bebas untuk berserikat. Namun seluruh organisasi dan partai politik harus berlandaskan persatuan dan kesatuan, mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan organisasi.

    Baca juga: Prabowo Terima "The Star of Soekarno"

    Ini pun tidak berarti saya meremehkan partai dan organisasi yang sekarang ada, sama sekali tidak. Kepentingan bangsa dan negara harus diutamakan. Tidak mungkin partai dan organisasi bergerak seperti sekarang ini kalau tidak ada negara Indonesia.

    Jaga hatimu, jaga jiwamu, jaga rohmu. Selama hatimu, jiwamu, rohmu kuat, bangsa Indonesia akan kuat. Bangsa Indonesia akan mencapai segala yang diidam-idamkan. Saudara-saudara bawalah obor semangat ini terus hingga Indonesia merdeka 100 persen tercapai dan masyarakat real happiness tercapai. Merdeka!”


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.