Kematian Petugas KPPS Disimpulkan Akibat Gagal Jantung dan Stroke

Reporter:
Editor:

Elik Susanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga memakamkan jenazah Sunaryo (58) di Tempat Pemakaman Umum Rangkah, Surabaya, Rabu, 24 April 2019. Almarhum meninggal setelah bertugas menjadi Ketua Kelompok Penyelenggaran Pemungutan Suara (KPPS) di TPS 13 Kelurahan Kapas Madya Baru, Kecamatan Tambaksari. ANTARA/Didik Suhartono

    Warga memakamkan jenazah Sunaryo (58) di Tempat Pemakaman Umum Rangkah, Surabaya, Rabu, 24 April 2019. Almarhum meninggal setelah bertugas menjadi Ketua Kelompok Penyelenggaran Pemungutan Suara (KPPS) di TPS 13 Kelurahan Kapas Madya Baru, Kecamatan Tambaksari. ANTARA/Didik Suhartono

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Bina Upaya Kesehatan Rujukan, Ditjen Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan, Tri Hesty Widyastoeti, mengatakan kematian petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) paling banyak disebabkan penyakit jantung dan stroke. "Terbanyak karena gagal jantung dan  stroke," kata Tri Hesty di kantor Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia di Jakarta, Senin, 13 Mei 2019.

    Baca Juga: Polisi Usut Penyebar Hoaks Petugas KPPS Tewas Diracun

    Menurut Tri Hesty, hasil investigasi Kementerian Kesehatan di 17 provinsi menemukan sebanyak 445 petugas KPPS meninggal. Sedangkan mereka yang sakit dan dirawat  mencapai 10.007 orang.

    Kementerian Kesehatan mendata kasus kematian paling banyak di Provinsi Jawa Barat. Adapun yang sakit di DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Petugas KPPS meninggal umumnya berusia 50 sampai 59 tahun, disusul usia 40 sampai 49 tahun. "Sebanyak 29 persen korban meninggal dunia berusia 50 tahun."

    Tri Hesty melanjutkan, kematian petugas KPPS paling banyak terjadi di luar rumah sakit dan korban umumnya meninggal tidak pada saat pencoblosan 17 April 2019. Mereka meninggal beberapa hari setelah tanggal 17 April, yaitu pada 21 sampai 25 April dan 26-30 April. "Sebab kematian ada beberapa yang belum diketahui, tetap kami terus telusuri," kata dia.

    Kementerian Kesehatan, kata Tri Hesty,  terus menerus berkoordinasi dan telah membentuk satuan tugas untuk menangani kasus tersebut. Di samping mendata angka yang sakit dan korban meninggal, Kementerian juga memeriksa kesehatan para petugas KPPS.

    Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih, mengatakan bahwa kematian petugas KPPS bukan karena kekelahan. Penyebab meninggalnya lebih dari 400 petugas di seluruh Indonesia itu lantaran penyakit yang sudah dideritanya.

    “Menghadapi kasus kematian mendadak dalam jumlah besar dalam kurun waktu yang singkat, IDI berpendapat bahwa kelelahan bukanlah penyebab langsung kematian. Namun dapat menjadi salah satu faktor pemicu atau pemberat sebab kematian,” kata Daeng.

    Menurut Daeng, petugas KPPS yang menjadi korban meninggal telah memiliki riwayat penyakit. Sehingga saat mendapatkan pekerjaan yang berat kemudian kelelahan, memicu atau memperberat penyakit yang dideritanya.

    “Kelelahan yang memicu penyakit tertentu, penyakit itu yang menyebabkan kematian. Kelelahan hanya salah satu faktor risiko saja yang memicu atau memperberat menjadi suatu penyakit, jadi bukan karena kelelahan,” kata Daeng.

    Daeng Faqih menegaskan, IDI sebagai organisasi profesi siap membantu semua pihak  untuk melakukan penelitian mendalam. Dibutuhkan investigasi yang obyektif dan berbasis keilmuan terhadap kejadian kematian petugas KPPS tersebut.

    Ahli penyakit dalam Zubairi Djoerban menyebutkan, faktor kelelahan, dehidrasi, dan stress dapat memicu terjadinya serangan jantung dan stroke yang bisa menyebabkan kematian. Hal tersebut, kata Zubairi, bukanlah faktor tunggal. Ada faktor-faktor lainnya yang memperparah penyakit. Oleh karena itu diperlukan penelitian lebih mendalam untuk memastikan apa penyebab kematian petugas KPPS.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.