KPK: Laporan Gratifikasi Lebaran Menurun dalam Dua Tahun Terakhir

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Febri Diansyah di kantornya, Jakarta Selatan pada 15 November 2018. TEMPO/Andita Rahma

    Juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Febri Diansyah di kantornya, Jakarta Selatan pada 15 November 2018. TEMPO/Andita Rahma

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat terjadi penurunan laporan jumlah gratifikasi menjelang Idul Fitri selama dua tahun terakhir. "Data pelaporan penerimaan gratifikasi terkait hari raya dua tahun terakhir menunjukkan penurunan jumlah," kata juru bicara KPK, Febri Diansyah, Senin, 13 Mei 2019.

    Baca: KPK Sarankan Pejabat Tolak Gratifikasi Lebaran 2019 Sejak Awal

    Febri mengatakan tren itu pertanda baik. Hal itu menandakan berkurangnya pihak pemberi gratifikasi. Ia menilai pemahaman bahwa pemberian gratifikasi ke pejabat dilarang sudah berkembang. Selain itu, kesadaran pejabat untuk menolak pemberian parcel juga sudah muncul.

    Febri mengatakan pada momen Lebaran 2017, KPK menerima 172 laporan. Terdiri dari 40 laporan dari kementerian atau lembaga; 50 laporan dari pemerintah daerah dan 82 laporan dari Badan Usaha Milik Negara. Total nilai pelaporan gratifikasi terkait dengan hari Raya Idul Fitri tersebut senilai Rp 161 juta. Dengan rincian Rp 22,7 juta dari kementerian, Rp 66 juta dari pemda dan Rp 72 juta dari BUMN.

    Febri mengatakan barang pemberian itu terdiri dari beragam bentuk, dari parcel makanan, barang pecah belah, uang, pakaian dan alat ibadah, sampai vocer belanja. "Nilainya juga beragam mulai dari parcel kue senilai Rp 50 ribu hingga parcel barang senilai Rp 39,5 juta," kata Febri.

    Pada momen Hari Raya Idul Fitri 2018, terjadi penurunan laporan menjadi 153 laporan atau sekitar 11 persen. Terdiri atas 54 laporan dari kementerian atau lembaga, 40 laporan dari pemda; dan 58 laporan dari BUMN.

    Namun, total nilai barang gratifikasi yang dilaporkan meningkat menjadi Rp 199 juta. Meskipun jumlah pelaporan menurun, nilai barang gratifikasi yang dilaporkan dari pemda meningkat menjadi Rp 96 juta. Di peringkat kedua nilai pelaporan gratifikasi dari kementerian Rp 54 juta dan dari BUMN senilai Rp 48 juta.

    "Barang gratifikasi yang dilaporkan masih berkisar pada parcel makanan, barang pecah belah, uang, pakaian, hingga voucher belanja dengan nilai terendah Rp 20 ribu sampai uang senilai Rp 15 juta," kata Febri.

    Febri mengatakan, untuk Lebaran 2019, hingga 10 Mei 2019 KPK belum menerima pelaporan gratifikasi. KPK mengingatkan pejabat negara agar sejak awal menolak pemberian gratifikasi yg berhubungan dengan jabatan dan berlawanan dengan tugas dan tanggung jawabnya. Terutama dari pihak-pihak yang memiliki konflik kepentingan dengan tugas yang dilaksanakan.

    KPK mengimbau agar menolak pemberian gratifikasi pada kesempatan pertama. Bila, karena kondisi tertentu pejabat tidak dapat menolak, maka penerimaan gratifikasi tersebut wajib dilaporkan paling lambat 30 hari Kerja kepada KPK.

    Baca juga: KPK Ingatkan Sangsi untuk Pejabat yang Terima Gratifikasi Lebaran

    Namun, jika laporan gratifikasi baru disampaikan setelah ada proses hukum penyelidikan, penyidikan dan penuntutan, maka KPK bisa tidak menindaklanjuti laporan tersebut dan menyerahkannya pada proses hukum yang berjalan. "Sehingga tindakan yang terbaik adalah menolak gratifikasi sejak awal," kata Febri.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?