Ditjen GTK Kemendikbud Gandeng Veteran Perkuat Karakter Anak Didik

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Supriano melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) dengan Sekretariat Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) di Jakarta pada 13 Mei 2019.

    Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Supriano melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) dengan Sekretariat Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) di Jakarta pada 13 Mei 2019.

    INFO NASIONAL - Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Ditjen GTK Kemendikbud) melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) dengan Sekretariat Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI). PKS ini terkait pelaksanaan program penanaman jiwa, semangat dan nilai-nilai kejuangan 1945 dalam rangka penguatan pendidikan karakter bagi guru dan tenaga kependidikan.

    Penandatanganan PKS ini dilakukan oleh Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Supriano dan Sekretaris Jnderal LVRI Marsekal Muda TNI (Purn) F.X. Soejitno di Jakarta pada Senin, 13 Mei 2019. “PKS ini menjadi dasar untuk langkah yang lebih besar ke depannya. Ini menjadi bagian dari niat untuk mencerdaskan anak-anak bangsa,” ujarnya.

    Di era globalisasi, lanjutnya, tantangan cukup berat baik internal maupun eksternal. “Mutu pendidikan belum merata dari kota hingga daerah terpencil. Apalagi jika dikaitkan dengan nilai-nilai perjuangan dan nasionalisme,” katanya. Terlebih lagi dengan adanya bonus demografi yang akan diterima Indonesia. “Jika tidak dikelola dengan pendidikan yang baik malah bisa menjadi beban bangsa,” kata Supriano.

    Karenanya, menurut Supriano, sinergi dengan LVRI diharapkan bisa membangun dan memperkuat karakter generasi penerus bangsa. “Banyak hal berubah dan mempengaruhi karakter dan tingkah laku seseorang. Pendidikan tidak hanya akademis namun juga jati diri dan karakter penting,” tuturnya. Menurut Perpres No. 88 Tahun 2017, Pendidikan Karakter meliputi nilai-nilai religious, nasionalisme, integritas, mandiri, dan gotong royong.

    Sementara itu, F.X. Soejitno mengungkapkan jajaran veteran perjuangan di Indonesia masih memiliki semangat untuk memberi sumbangsih pada pembangunan Indonesia. “Arus globalisasi memang tidak bisa dilawan, namun harus direspon dengan bijaksana supaya tidak melenceng dan salah arah. Jiwa dan semangat juang ini yang bisa kami tularkan dan bekalkan untuk tetap kuat dan bertahan dari gempuran globalisasi,” kata Soejitno yang dulu merupakan pilot pesawat F16 ini.

    Adapun ruang lingkup kerja sama ini meliputi sosialisasi dan bimbingan teknis, pendidikan dan pelatihan, serta monitoring dan evaluasi program yang telah dijalankan. Dalam implementasinya nanti, menurut Supriano, yang akan dibekali adalah para guru. “Guru terlebih dahulu karena mereka kuncinya. Kemudian baru dilanjutkan oleh guru kepada anak didik,” ujarnya. Rencananya nanti juga akan dilakukan dalam model zonasi di mana ada zona nasional dan daerah.

    Dengan menggandeng para veteran ini diharapkan nilai-nilai perjuangan dan nasionalisme dapat tertularkan dengan lebih kuat. “Mereka sebagai pelaku sejarah dan perjuangan pastinya akan memiliki cerita yang mempu memupuk jiwa-jiwa perjuangan dan nasionalisme,” kata Supriano. Kemudian, karena nilai-nilai penguatan karakter dan nasionalisme ini bersifat umum, maka bisa masuk ke semua mata pelajaran. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.