Masuki Dua Abad, Muhammadiyah Tegaskan Sebagai Gerakan Pencerah

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir berpidato saat menghadiri Sarasehan Kebangsaan Pra Tanwir Muhammadiyah di UMM Dome, Malang, Jawa Timur, Kamis 7 Februari 2019. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

    Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir berpidato saat menghadiri Sarasehan Kebangsaan Pra Tanwir Muhammadiyah di UMM Dome, Malang, Jawa Timur, Kamis 7 Februari 2019. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar tanah air tengah menyongsong usianya yang memasuki dua abad.

    Baca juga: Muhammadiyah Siap Fasilitasi Rekonsiliasi Kubu Jokowi dan Prabowo

    Haedar menyatakan Muhammadiyah sebagai organisasi perlu memperkuat prinsip-prinsip sebagai gerakan pencerahan untuk umat.

    “Muhammadiyah saat ini tengah memasuki fase baru abad ke-2. Bisa jadi banyak yang akan berubah di masa ini dan masa depan nanti, di mana perubahan itu belum tercover generasi terdahulu,” ujar Haedar dalam keterangan saat tausiyah Pengajian Ramadhan Pimpinan Pusat Muhammadiyah 1440 H/2019 M di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis petang, 9 Mei 2019.

    Dalam tausyiah bertajuk Risalah Pencerahan dalam Kehidupan Keumatan dan Kebangsaan itu, Haedar mengungkapkan posisi konsep risalah pencerahan gerakan Muhammadiyah lahir agar kader paham dalam membingkai gerakan organisasi itu. Baik saat menghadapi dinamika internal, nasional maupun global.

    Selain itu, dari prinsip yang dianut, kader juga diharapkan meneruskan gerakan pembaharuan yang diteladankan pendiri Muhammadiyah Kiai Haji Ahmad Dahlan.

    “Gerakan pencerahan ini mampu menyambung mata rantai yang terputus dari Ahmad Dahlan yang dulu menggunakan kata kemajuan,” ujarnya.

    Pencerahan diambil dari kata tanwir. Menurut Haedar kata tersebut memiliki makna nur yang berarti cahaya dan nar yang berarti api yang memercikkan cahaya.

    Haedar mengatakan pencerahan Muhammadiyah dalam konteks gerakan, teologis dan ideologis memiliki landasan bahwa Islam sebagai agama peradaban.

    “Islam sebagai din al-tanwir (agama pencerahan)” ujarnya.

    Gerakan pencerahan itu menurut Haedar penting bagi generasi zaman ini yang memiliki kerinduan dan haus akan nilai-nilai agama yang meneguhkan.

    “Muhammadiyah sebagai api pencerah harus bisa menjawab kebutuhan umat yang kembali kepada agama. Memberi keteduhan juga kepastian dan pencerahan dalam menghadapi masa depan,” ujarnya.

    Haedar menambahkan, Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah pencerahan untuk mewujudkan kehidupan yang lebih utama memiliki komitmen kuat untuk Islam sebagai agama yang mencerahkan.

    Baca juga: Muhammadiyah Angkat Bicara Soal Seruan People Power Amien Rais

    Haedar mengatakan Muhammadiyah sejak didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan di Kampung Kauman Yogyakarta tanggal 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330 H) silam sudah berdiri dan merespon berbagai macam perubahan dan perkembangan zaman se abad lebih lamanya.

    Dalam kurun waktu tersebut Muhammadiyah sebagai bentuk gerakan Islam berkemajuan dinilai telah banyak berpengaruh dalam kehidupan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.