Menhan Ryamizard Ryacudu Ingatkan Bahaya Perang Mindset Khilafah

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, saat memberi sambutan di Simposium bertema 'Perang Mindset Pada Era Keterbukaan Informasi', di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Rabu, 8 Mei 2019. Tempo/Egi Adyatama

    Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, saat memberi sambutan di Simposium bertema 'Perang Mindset Pada Era Keterbukaan Informasi', di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Rabu, 8 Mei 2019. Tempo/Egi Adyatama

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertahanan atau Menhan Ryamizard Ryacudu mengatakan saat ini perang pola pikir (mindset) sedang terjadi di Indonesia. Ia menekankan bahaya perang ini jika tidak disikapi dengan baik oleh masyarakat dan pemerintah.

    Baca: Penabrakan KRI Tjiptadi-381, Ryamizard akan Temui Menhan Vietnam

    "Yang paling berbahaya yaitu ancaman terhadap mindset bangsa Indonesia, yang berupaya untuk mengubah ideologi negara bangsa Indonesia," kata Ryamizard, dalam simposium bertema 'Perang Mindset Pada Era Keterbukaan Informasi', di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Rabu, 8 Mei 2019.

    Ryamizard mengatakan ancaman mindset ini bersifat masif dan terstruktur. Saat ini, ia menilai yang paling banyak muncul dan beredar di masyarakat adalah faham khilafah. Ia menuding hal ini juga yang kemudian bermuara pada faham radikal yang bermunculan di Indonesia. "Ancaman khilafah ini sudah terang-terangan ingin mengganti ideologi negara Pancasila," kata Ryamizard.

    Hal ini, kata dia, terlihat dari aksi teror bom yang terjadi di Surabaya dan Sri Lanka. Pelaku pengeboman melibatkan anggota keluarga terdekat dan mengajak mereka untuk ikut ambil bagian dalam aksi mereka.

    Ryamizard menegaskan ideologi ini sangat berbeda dengan nilai Islam yang diajarkan selama ini. "Islam Indonesia yang sebenarnya adalah islam yang penuh damai dan menjunjung tinggi nilai persatuan, nasionalisme, dan toleransi," kata dia.

    Salah satu pembicara di Simposium ini, akademisi pakar anti teroris dari Sri Lanka, Rohan Gunaratna, juga mengatakan perang mindset ini sangat berbahaya. Ia menyebut hampir sebagian besar kelompok yang berideologi anti Pancasila di Indonesia, tidak melakukan gerakan lewat kekerasan.

    Umumnya, penyebaran ideologi ini dilakukan lewat dunia maya. Mulai dari Facebook hingga akun media sosial terenkripsi lain digunakan sebagai medium. "Mereka melakukan kekerasan hanya 1 persen saja. 99 persen mereka justru membentuk mindset," kata Rohan.

    Simak juga: Menhan: Kekuatan Pertahanan Indonesia Masuk 10 Besar Dunia

    Ia pun menyarankan ke depan, pengawasan lebih terhadap cyber space harus dilakukan di Indonesia. Ia juga mengapresiasi program Bela Negara yang terus digaungkan oleh Ryamizard. "Pertahanan terbaik adalah nasionalisme," kata Rohan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.