KPK Sita Puluhan Dokumen dari Ruangan Enggartiasto Lukita

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas KPK memasukan koper ke dalam mobil seusai melakukan penggeledahan ruang kerja Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, di Gedung Utama Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin, 29 April 2019. Sebelumnya, Saut Edward, pengacara Bowo Sisik menyebutkan bahwa sumber uang yang berada dalam amplop untuk digunakan Bowo Sidik dalam

    Petugas KPK memasukan koper ke dalam mobil seusai melakukan penggeledahan ruang kerja Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, di Gedung Utama Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin, 29 April 2019. Sebelumnya, Saut Edward, pengacara Bowo Sisik menyebutkan bahwa sumber uang yang berada dalam amplop untuk digunakan Bowo Sidik dalam "serangan fajar" pada Pemilu 2019 berasal dari salah satu menteri di Kabinet Kerja. ANTARA/Aprillio Akbar

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita puluhan dokumen dan barang bukti elektronik dari ruangan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. KPK menyatakan dokumen tersebut terkait Peraturan Menteri Perdagangan terkait gula rafinasi.

    Baca: Bowo Sidik Mengaku Mendapatkan Rp 2 M dari Menteri Enggartiasto

    "Disita puluhan dokumen terkait dengan peraturan menteri perdagangan ttg gula rafinasi serta barang bukti elektronik," kata juru bicara Febri Diansyah, di kantornya, Jakarta, Senin, 29 April 2019.

    Tim penindakan KPK menggeledah ruangan Enggar dalam penggeledahan pada hari ini. Selain menggeledah ruangan Enggar, KPK juga menggeledah ruang Biro Hukum Kemendag dan ruangan staf lainnya.

    Febri mengatakan penggeledahan itu terkait proses penyidikan kasus suap kerjasama pengangkutan pupuk, yang menjerat anggota DPR Bowo Sidik Pangarso menjadi tersangka. Dalam kasus tersebut, KPK menyangka Bowo menerima suap Rp 1,2 miliar dari bagian pemasaran PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti untuk membantu perusahaan tersebut mendapatkan kontrak pengangkutan pupuk.

    Dalam proses penyidikan kasus itu, KPK juga menyita Rp 8 miliar dari kantor milik Bowo di Pejaten, Jakarta Selatan. Kepada penyidik, Bowo mengaku sebanyak Rp 2 miliar dari uang tersebut merupakan pemberian Enggar.

    Kepada penyidik, Bowo mengatakan Enggar memberikan uang itu melalui utusannya pada pertengahan 2017. Bowo mengatakan uang Rp 2 Miliar itu diterima dari Enggartiasto agar dia mengamankan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 16/M-DAG/PER/3/2017 tentang Perdagangan Gula Kristal Rafinasi Melalui Pasar Lelang Komoditas, yang akan berlaku akhir Juni 2017. Saat itu Bowo merupakan pimpinan Komisi VI DPR yang salah satunya bermitra dengan Kementerian Perdagangan dan Badan Usaha Milik Negara.

    Enggar diduga meminta Bowo mengamankan Permendag itu karena adanya penolakan dari sebagian besar anggota dewan dalam rapat dengar pendapat yang berlangsung awal Juni 2017. Dewan beranggapan gula rafinasi yang masuk pengawasan pemerintah tak seharusnya dilelang secara bebas dalam kendali perusahaan swasta.

    Enggartiasto Lukita membantah memberikan uang tersebut. "Apa urusannya saya ngasih duit. Dari saya yakin betul enggak ada. Dia dari Golkar saya dari NasDem," kata Enggar di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, hari ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Diduga Ada Enam Perkara Di Balik Teror Terhadap Novel Baswedan

    Tim gabungan kepolisian menyebutkan enam perkara yang ditengarai menjadi motif teror terhadap Penyidik KPK Novel Baswedan.