Enggartiasto Lukita Rapat di Istana saat Ruangannya Digeledah KPK

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (kiri) berbincang dengan Menteri PUPR Basukii Hadimuljono (kedua kiri), Menteri BUMN Rini Soemarno (kedua kanan) dan Menteri Pertanian Amran Sulaiman sebelum rapat terbatas (ratas) di kantor Presiden, Jakarta, 30 Mei 2018. Ratas tersebut membahas kesiapan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1439 H. ANTARA/Wahyu Putro A

    Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (kiri) berbincang dengan Menteri PUPR Basukii Hadimuljono (kedua kiri), Menteri BUMN Rini Soemarno (kedua kanan) dan Menteri Pertanian Amran Sulaiman sebelum rapat terbatas (ratas) di kantor Presiden, Jakarta, 30 Mei 2018. Ratas tersebut membahas kesiapan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1439 H. ANTARA/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sedang mengikuti rapat terbatas membahas soal pemindahan ibu kota di kantor presiden saat ruangan kerjanya digeledah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin, 29 April 2019. Rapat itu berlangsung mulai pukul 13.30 sampai sekitar pukul 14.50.

    Baca: KPK Geledah Ruang Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita

    Enggar mengaku tahu ruangannya digeladah oleh KPK. Namun ia mengaku belum mendapatkan informasi terkait barang apa saja yang disita dari ruangan kerjanya. "Belum tahu," ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 29 April 2019.

    Juru Bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan pihaknya menggeledah ruang kerja Enggar terkait penyidikan dugaan gratifikasi yang menjerat anggota DPR Komisi Perdagangan, Bowo Sidik Pangarso. Bowo menjadi tersangka dalam kasus suap kerja sama pelayaran antara PT Pupuk Indonesia Logistik dan PT Humpuss Transportasi Kimia.

    Suasana di gedung Kementerian Perdagangan pasca Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah ruang kerja Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita Senin, 29 April 2019. TEMPO/ CAESAR AKBAR

    Dalam kasus ini, Bowo diduga menerima uang Rp Rp 1,2 miliar dari Manager Marketing PT HTK Asty Winasti untuk membantu perusahaan kapal itu memperoleh kontrak pengangkutan pupuk. Namun KPK menduga Bowo tak cuma menerima uang dari satu sumber. Sebab, lembaga anti-rasuah itu mendapatkan bukti telah terjadi penerimaan lain terkait jabatan BSP, selaku anggota DPR.

    KPK menyita 400 ribu amplop berisi pecahan Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu dengan jumlah Rp 8 miliar dari kantor PT Inersia Tampak Engineer. KPK menengarai Bowo semula berencana membagikan uang itu saat hari pencoblosan untuk serangan fajar.

    Kepada penyidik, Bowo mengaku jika uang Rp 2 miliar dari Rp 8 miliar tersebut berasal dari Enggar agar ia mengamankan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 16/M-DAG/PER/3/2017 tentang Perdagangan Gula Kristal Rafinasi Melalui Pasar Lelang Komoditas, yang akan berlaku akhir Juni 2017. Saat itu Bowo merupakan pimpinan Komisi VI DPR yang salah satunya bermitra dengan Kementerian Perdagangan dan Badan Usaha Milik Negara.

    Baca: Bowo Sidik Mengaku Mendapatkan Rp 2 M dari Menteri Enggartiasto

    Saat ditanyakan tentang duit tersebut, Enggar menampiknya. "Apa urusannya saya ngasih duit. Dari saya, saya yakin betul enggak ada," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.