Lubang Bekas Tambang Kembali Memakan Korban Jiwa

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lokasi lubang bekas tambang tenggelam siswi SMP Samarinda. TEMPO/SG Wibisono

    Lokasi lubang bekas tambang tenggelam siswi SMP Samarinda. TEMPO/SG Wibisono

    TEMPO.CO, Jakarta - Korban tewas di lubang bekas tambang terus berjatuhan. Baru-baru ini seorang remaja bernama Rizki Nur Aulia, 14 tahun, meninggal di lubang bekas galian batu bara di Desa Bung Jadi Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Rizki dikabarkan meninggal pada Ahad, 21 April 2019 lalu sekitar pukul 18.00 Wita.

    Baca juga: Gubernur Sultra Ali Mazi Hentikan Sementara 13 Usaha Tambang

    “Ada laporan korban meninggal di lokasi lubang,” kata Ketua RT 10 Desa Bunga Kukar Kaltim, Kuswanto, Sabtu, 27 April 2019.

    Kuswanto mengatakan, lokasi korban tenggelam merupakan lubang lebar bekas galian yang penuh berisi air. Kawasannya sendiri terbuka untuk umum tanpa dilengkapi papan larangan maupun pemasangan pagar pembatas.

    Lubang ini merupakan bekas galian perusahaan pertambangan sejak dua tahun silam. Perusahaan bersangkutan meninggalkan lokasinya tanpa reklamasi.

    Putri pasangan Wiyono dan Sri Rahayu ini ditemukan tewas di lubang bekas tambang PT Mandala Usaha Tambang Utama (Mutu). Sebelumnya, ia bersama empat rekannya bermain di lubang galian yang penuh air.

    “Sudah kami pastikan informasinya jatuhnya korban di lubang bekas tambang,” kata Dinamisator Jatam Kaltim, Pradharma Rupang.

    PT Mutu merupakan pemegang dua konsesi pertambangan di Kukar masing masing seluas 616 hektare dan 1.059 hektare. Lokasinya hanya berjarak 57 meter dari jalan umum masyarakat.

    Pradharma datang ke rumah keluarga korban yang sedang menggelar tahilan doa almarhumah. Keluarganya pun membenarkan peristiwa jatuhnya Rizki ke lubang bekas tambang.

    “Kami mendengar ada korban tewas dari salah satu sumber masyarakat. Saat kami cek memang ada yang meninggal tenggelam dan keluarganya menggelar doa tahlilan,” kata Pradharma.

    Peristiwa ini semakin menambah panjang daftar korban tenggelam di lubang bekas galian tambang di Kaltim menjadi 33 orang. Para korban tewas di lubang bekas tambang itu tersebar di Kukar, Samarinda, Kutai Barat dan Penajam Paser Utara.

    “Korban paling banyak tercatat ada di Kukar sebagai kabupaten terkaya di Kaltim,” kata Pradharma.

    Baca juga: Soal Penguasaan Lahan Tambang, Luhut: Itu Sebelum Jadi Menteri

    Menurut Pradharma, aparat pemerintah daerah lemah dalam menanggulangi dampak negatif adanya lubang bekas tambang.

    Ia bahkan ragu pihak Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kaltim mengetahui jatuhnya korban di lubang milik PT Mutu itu.

    “Kami kebetulan tahu informasinya dari laporan warga yang peduli hal ini. Sepertinya Distamben Kaltim juga belum mengetahuinya,” ungkapnya.

    Saat dihubungi, Kepala Distamben Kaltim Wahyu Widhi Heranata memang belum menerima laporan kejadian ini. “Nanti saya cek laporan anggota Distamben Kaltim,” kata dia.

    Pradharma melanjutkan, ketidak tahuan petugas lapangan membuktikan minimnya pengawasan tentang bahaya lubang bekas tambang. Selama ini bertahun tahun, Pemprov Kaltim lambat mengatasi permasalahannya hingga jatuhnya korban mencapai 33 jiwa.

    Selama ini, Jatam sudah berulang kali mempublikasi adanya 1.488 izin usaha pertambangan (IUP) konsesi Kaltim seluas 5,4 juta hektare. Jumlah tersebut belum termasuk izin Perjanjian Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) seluas 1,3 juta hektare.

    “Sehingga hitungan kasar sementara diperkirakan lubang bekas tambang sebanyak 4.464 di Kaltim,” ungkap Pradharma.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.