HUT ke-67, Kopassus Kenalkan Olahraga Satuan Khusus ke Masyarakat

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komandan Jenderal Kopassus Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa memberikan sambutan pembukaan acara Komando Warriors III For Unity di Taman Budaya Sentul City, Bogor. Sabtu 27 April 2019. Tempo/ Fikri Arigi

    Komandan Jenderal Kopassus Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa memberikan sambutan pembukaan acara Komando Warriors III For Unity di Taman Budaya Sentul City, Bogor. Sabtu 27 April 2019. Tempo/ Fikri Arigi

    TEMPO.CO, Bogor- Pada hari ulang tahun Komando Pasukan Khusus (Kopassus) ke-67, pasukan elite milik TNI Angkatan Darat ini kembali menggelar lomba halang rintang bernama Komando Warriors. Lomba ini diadakan untuk memperkenalkan olahraga ala Kopassus kepada masyarakat umum.

    “Event Komando Warriors kali ini bertujuan untuk mengajak masyarakat merasakan bagaimana sih olahraga ala pasukan khusus,” tutur ketua panitia Komando Warriors, Mayor Infanteri Eka Wira Dharmawan di Taman Budaya Sentul City, Bogor, Sabtu 28 April 2019.

    Baca: HUT ke67, Kopassus Gelar Kompetisi Halang Rintang Komando Warrior

    Komando Warriors merupakan kegiatan tahunan yang digelar setiap kali Kopassus berulang tahun. Tahun ini merupakan kali ketiga olahraga itu digelar dengan tajuk Komando Warriors III For Unity.

    Konsep Komando Warriors sendiri merupakan lomba adu cepat berlari dengan melewati beberapa rintangan atau obstacle. Medan Komando Warriors tahun ini merentang sepanjang 4,8 Kilometer dengan 17 obstacle.

    Obstacle yang tersebar di sepanjang lintasan harus dilalui semua peserta. Peserta yang gagal melalui obstacle dihukum dengan waktu penalti yang akhirnya akan dinilai sebagai penentu juara.

    Sebanyak 17 obstacle itu adalah Hurdle wall 3 feet; Lari gawang; Vertical cargo; Slip wall; Shooting; Sanbah carry; Net crawl; Wall; Olympus wall; Water crossing; Pyramid; Frog hoop; Multiple pool; Tire hoop; Monkey bar; Net squat; dan Great wall.

    Menurut Eka obstacle tersulit kali ini adalah monkey bar, di mana peserta harus bergelantung dari satu pipa besi ke pipa yang lain. Selain faktor kekuatan tangan, Eka menilai obstacle ini paling sulit karena posisinya di akhir, sehingga banyak peserta yang sudah kelelahan.

    Pantauan Tempo, cukup banyak peserta yang gagal di obstacle yang berada sangat dekat dengan garis finish ini. Begitu pula disampaikan oleh salah seorang peserta, Muhamad Nizhan, 18 tahun. “Paling sulit (melewati) obstacle monkey bar. Karena harus bisa mencengkram dengan kuat,” tuturnya saat tiba di garis finish.

    Dalam upaya mengenalkan olahraga ala Kopassus ke masyarakat, pada saat pembukaan acara, mereka juga sempat menunjukkan cara pasukan khusus melatih otot tubuhnya. Eka menyebut latihan tersebut sebagai Kopassus Split.

    Simak: Aksi Prajurit Unjuk Kebolehan di HUT ke-67 Kopassus

    Metode ini sebagian besar memperagakan latihan pull up namun dengan beban tambahan, seperti membawa tas ransel besar, rantai, senapan dan sebagainya. Selain itu ada pula denga cara mengangkat ban yang biasa dipakai truck seorang diri.

    Selepas acara, Eka mengaku puas dengan kegiatan Komando Warriors kali ini. Karena berhasil menambah jarak, jumlah obstacle, dan juga jumlah peserta yang kali ini mencapai 659 orang. Namun tetap, kata Eko, tahun depan Kopassus berambisi akan meningkatkan lagi kualitas Komando Warriors. “Targetnya (tahun depan) menambah jarak, menambah obstacle sama menambah jumlah peserta,” ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.