Saat Jokowi Tersengat Membaca Editorial Koran Tempo

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo saat wawancara khusus dengan tim Tempo Media Grup di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat 26 April 2019. TEMPO/Subekti.

    Presiden Joko Widodo saat wawancara khusus dengan tim Tempo Media Grup di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat 26 April 2019. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi tersengat saat membaca Editorial Koran Tempo, Kamis, 25 April 2019. Tajuk itu dia gunting dan diletakkan di meja kerjanya. Berjudul Propaganda Kecurangan Pemilu, tulisan itu menyatakan seruan pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno untuk tidak mempercayai hasil hitung cepat Pemilihan Presiden 2019--yang mengunggulkan Jokowi - Ma'ruf Amin--sebagai pembodohan.

    Berikut Tajuk Koran Tempo: Propaganda Kecurangan Pemilu

    Di depan wartawan Tempo, Budi Setyarso dan Reza Maulana yang menemuinya di di Istana Bogor, Jumat, 26 April 2019, Jokowi membaca tulisan itu keras-keras. "Kenapa ga ada yang berani ngomong seperti ini sebelumnya," kata dia. Menurut Jokowi, 57 tahun, hitung cepat merupakan metode ilmiah dengan tingkat keakuratan tinggi. Perhitungan itu pula yang membuat 25 kepala negara dan pemerintahan--diantaranya Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan-- memberinya ucapan selamat atas kemenangan di pemilihan presiden, 17 April lalu.

    Tanpa menyebut nama, Jokowi menyesalkan pihak lain yang membangun opini dengan mengklaim kemenangan, sehingga mempengaruhi rasionalitas masyarakat. Dia juga menyinggung soal post-truth. Menurut kamus Oxford, post-truth atau pascakebenaran adalah kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal. Momen yang paling berkorelasi dengan konsep itu adalah hengkangnya Inggris Raya dari Uni Eropa dan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat.

    Baca juga: Said Iqbal Bertemu Jokowi, BPN Prabowo: Dukungannya Tak Berubah

    Menurut Jokowi, media dan para pemimpin non forma harus lebih banyak berbicara untuk menjernihkan disinformasi. "Kalau nggak ada yang berani menyampaikan, membodohi kita semua," kata Jokowi. "Semakin lama, semakin susah menyembuhkannya."

    Dalam wawancara eksklusif selama 45 menit itu, Jokowi juga membahas soal upaya rekonsiliasi dengan Prabowo-Sandiaga, rencana kerja pemerintahan 2019-2024, dan reshuffle kabinet. Baca wawancara selengkapnya di Majalah Berita Mingguan Tempo yang terbit Senin, 29 April 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.