Masyarakat Diyakini Tak Terprovokasi Isu-isu di Pemilu 2019

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah personil TNI dan Polri melakukan pengamanan di Gedung KPU RI, Jakarta, Kamis, 18 April 2019. Penempatan pasukan TNI dan Polri itu untuk mengamankan penghitungan hasil Pemilu 2019 di gedung tersebut. ANTARA/Reno Esnir

    Sejumlah personil TNI dan Polri melakukan pengamanan di Gedung KPU RI, Jakarta, Kamis, 18 April 2019. Penempatan pasukan TNI dan Polri itu untuk mengamankan penghitungan hasil Pemilu 2019 di gedung tersebut. ANTARA/Reno Esnir

    TEMPO.CO, Surabaya - Sekretaris Jenderal Jaringan Kiai dan Santri Nasional (JKSN) Zahrul Azhar Asumta meyakini masyarakat tidak mudah termakan provokasi-provokasi yang sengaja diembuskan selama proses pemilu 2019. Misalnya soal isu kecurangan dan people power yang sering disebut politikus senior Amien Rais.

    Baca: Erick Thohir Kirim Surat Edaran Minta Relawan Jokowi Tak Ragu

    “Saya yakin masyarakat sudah dewasa. Sebagai jaringan kiai dan santri, tugas kami menjaga agar bangsa ini tetap adem dan tentrem (tenteram),” kata kiai muda yang akrab disapa Gus Hans ini di posko JKSN, Jalan Diponegoro 9, Surabaya, Sabtu, 20 April 2019.

    Menurut Zahrul, JKSN tidak capek-capeknya memberi penyadaran pada masyarakat agar menjaga kerukunan serta menyerahkan hasil pemilu pada Komisi Pemilihan Umum. Sebab, kata dia, baik kubu 01 maupun 02 telah berihtiar maksimal.

    “Jika pemilu ini diniatkan jihad oleh pasangan calon, maka setelah berjihad mereka tawakal pada Allah SWT. Kalau mengaku jihad tapi tidak tawakal, jihadnya perlu kita pertanyakan,” tutur Zahrul.

    Zahrul melihat hiruk-pikuk prapemilu hingga pascapemilu merupakan risiko Indonesia sebagai salah satu negara demokrasi terbesar. Namun selama tokoh-tokoh bangsa dan ulama mengawal proses konsolidasi demokrasi ini dengan baik, provokasi-provokasi itu tak akan laku.

    “Seperti misalnya mengapa pada saat kampanye mereka ramai, tapi perolehan suaranya di pemilu tak seramai waktu kampanye, berarti ada silent majority yang tidak dipikirkan oleh mereka. Silent majority inilah orang yang tak mau ribut dan jumlahnya masih mayoritas di Indonesia,” kata Zahrul.

    Ketua Umum JKSN M. Roziky mengimbau kelompok santri dan kiai yang sempat terbelah selama pemilu untuk kembali bersatu. Terhadap yang sulit diajak bersatu, Roziky mengaku berdoa agar mereka diberi hidayah. “Kalau mau mari kita bersatu kembali, namun jika sulit diajak saya hanya bisa berdoa semoga mereka mendapat hidayah,” ujar dia.

    Baca: PDIP Tantang Kubu Prabowo Adu Data Real Count Pilpres

    JKSN merupakan salah satu organ relawan pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin. JKSN dimotori salah satunya oleh Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama Khofifah Indar Parawansa yang juga Gubernur Jawa Timur.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban, Tersangka, Barang Bukti, dan Lokasi Kerusuhan 22 Mei 2019

    Kerusuhan 22 Mei 2019 di Ibu Kota bermula dari unjuk rasa penolakan hasil pilpres 2019 di depan gedung Bawaslu, Jakarta, sejak sehari sebelumnya.