Kesalahan Input Data, KPU: Murni Human Error

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Panitia Pemilihan Kecamatan membuka kotak berisi surat suara Pemilu Serentak 2019 untuk dilakukan rekapitulasi di tingkat Kecamatan di GOR Mangga Dua Selatan, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Jumat, 19 April 2019. Komisi Pemilihan Umum (KPU) membutuhkan waktu paling lama 35 hari untuk menghitung suara keseluruhan Pemilu 2019. ANTARA/Nova Wahyudi

    Petugas Panitia Pemilihan Kecamatan membuka kotak berisi surat suara Pemilu Serentak 2019 untuk dilakukan rekapitulasi di tingkat Kecamatan di GOR Mangga Dua Selatan, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Jumat, 19 April 2019. Komisi Pemilihan Umum (KPU) membutuhkan waktu paling lama 35 hari untuk menghitung suara keseluruhan Pemilu 2019. ANTARA/Nova Wahyudi

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman menyebutkan kesalahan memasukkan data ke Sistem Informasi Penghitungan (SITUNG) murni merupakan kelalaian. Ia membantah kesalahan tersebut disengaja dan bertujuan memenangkan salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden.

    Baca: KPU Bogor Berduka Cita, Dua Ketua KPPS Pemilu 2019 Meninggal

    “Kalau ada yang menduga bahwa kami lakukan kecurangan, masa kami publikasikan? Jadi saya tegaskan tidak ada niat untuk curang. Kalau terjadi karena kesalahan input, itu saya menduga murni karena human error,” kata Arief saat menggelar jumpa pers di Kantor KPU, Jakarta Pusat, Sabtu, 20 April 2019.

    Menurut dia, kelelahan petugas KPU di daerah menjadi salah satu sebab terjadinya kesalahan tersebut. Petugas pemungutan suara di daerah, kata dia, harus bekerja hampir 24 jam untuk menghitung suara dan memasukkan data tersebut ke sistem SITUNG.

    “Di mulai dari TPS, KPPS itu bekerja sebagian dari mereka bahkan lebih dari 24 jam mulai jam 6 pagi kan mereka sudah persiapkan. Jam 7 pagi kemudian mulai pemungutan perhitungan suara, itu bahkan ada yang selesainya berikutnya sampai dengan selesai setelah matahari  terbit,” katanya.

    Untuk meminimalisir kesalahan, KPU pun telah membuka layanan pengaduan masyarakat. Apabila ditemukan adanya ketidaksesuaian data di SITUNG dan formulir C1, masyarakat bisa menghubungi nomor KPU yang sudah disebar di media sosial resmi KPU.

    Akhir-akhir ini di media sosial banyak bertebaran akun yang menyebarkan adanya ketidaksesuaian hasil penghitungan di SITUNG dengan formulir C1. Sebelumnya, KPU pun mengakui ada kesalahan memasukkan data hasil penghitungan ke SITUNG. KPU menyebut ada 9 daera yang teridentifikasi melakukan kesalahan.

    SITUNG merupakan sistem penghitungan yang dilakukan KPU dengan cara scan dan upload formulir C1 di setiap TPS. SITUNG ini dipergunakan untuk menampilkan hitung suara atau real count berdasar formulir C1.

    Simak juga: Karangan Bunga Berdatangan ke Kantor KPU, Ucapkan Semangat

    Kendati demikian, SITUNG bukan sistem penghitungan yang akan menjadi dasar penetapan suara terbanyak di Pemilu. Penetapan suara terbanyak akan dihitung berdasarkan sistem penghitungan manual berjenjang. Hasil penghitungan ini pun akan memakan waktu selama kurang lebih 35 hari.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.