Pengamat: Jokowi dan Prabowo Manfaatkan Sentimen Agama di Pilpres

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (ki-ka) Pemimpin Redaksi Tempo.co, Wahyu Dhyatmika, Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies, Philips Vermonte, Dosen Universitas Gadjah Mada, Dodi Ambardi, dan Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid, dalam diskusi

    (ki-ka) Pemimpin Redaksi Tempo.co, Wahyu Dhyatmika, Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies, Philips Vermonte, Dosen Universitas Gadjah Mada, Dodi Ambardi, dan Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid, dalam diskusi "Menatap Indonesia setelah Pemilu" di Ruang & Tempo, Palmerah, Jakarta, Senin, 15 April 2019. TEMPO/Bintari Rahmanita

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada, Dodi Ambardi, mengatakan tren polarisasi agama di Indonesia masih kuat di Pemilihan Presiden atau Pilpres 2019. Bahkan, selama kontestasi, kedua pasangan calon presiden, Joko Widodo atau Jokowi dan lawannya Prabowo Subianto, turut memobilisasi agama untuk mendapatkan dukungan dari kelompok tertentu.

    Baca: TKN Jokowi Lapor Dugaan Kecurangan Pemilu di LN ke Bawaslu

    “Masing-masing mencoba untuk memanfaatkan sentimen agama yang terpolar, yang diharapkan dapat membetot dukungan politik,” kata Dodi dalam diskusi bertajuk ‘Menatap Indonesia Setelah Pemilu’ di kantor Tempo, Senin petang, 15 April 2019.

    Dodi mencontohkan, mobilisasi agama telah dilakukan calon presiden Joko Widodo atau Jokowi saat memilih wakil presidennya, yakni Ma’ruf Amin. Penetapan Ma’ruf Amin sebagai pendamping tak diprediksi oleh masyarakat. Sebab, Jokowi kala itu santer dikabarkan akan menggandeng Mahfud MD sebagai cawapres. 

    Menurut Dodi, Mahfud MD memiliki ketokohan dengan kredensial Islam yang mumpuni, bahkan melampaui Ma’ruf. Namun, Ma’ruf diduga dipilih lantaran namanya turut berperan pada munculnya gerakan 212 pada 2016.

    Ma’ruf dianggap mampu menarik elektoral dari kelompok konservatif dalam banyak.  “Paling tidak (Ma’ruf) membentengi Jokowi dari anggapan terlalu abangan atau kejawen,” ujarnya.

    Sikap seragam turut ditunjukkan calon presiden Prabowo Subianto. Prabowo, ujar Dodi, turut merangkul tokoh dalam lingkaran 212, misalnya Rizieq Sihab. Pentolan Front Pembela Islam itu ditengarai memiliki hubungan dekat dengan koalisi Prabowo. Adapun sikap Prabowo memobilisasi tokoh 212 itu tak jauh dari tujuan penggalangan dukungan.

    Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian (JGD) Alissa Qotrunnada Munawaroh atau Alissa Wahid mengatakan situasi pilpres yang sarat polarisasi agama ini merupakan perubahan karakteristik demokrasi. Persepsi masyarakat yang telah bergerak berubah terhadap politik ini dipengaruhi iklim menguatnya sentimen agama dalam Pilkada DKI. 

    Simak: Masa Tenang, Prabowo Akan Olahraga. Kira-Kira Olahraga Apa?

    “Kalau kita bicara 1998, rakyat melawan negara people versus people. Tapi kondisi ini berubah, people versus people,” ujarnya dalam acara yang sama.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban, Tersangka, Barang Bukti, dan Lokasi Kerusuhan 22 Mei 2019

    Kerusuhan 22 Mei 2019 di Ibu Kota bermula dari unjuk rasa penolakan hasil pilpres 2019 di depan gedung Bawaslu, Jakarta, sejak sehari sebelumnya.