AJI Gelar Pelatihan Fact Checker kepada 3000 Jurnalis

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Trusted Media Summit yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo), Internews dan didukung oleh Google News Initiative, diadakan di Hotel Gran Melia, Jakarta, Sabtu 5 Mei 2018. Istimewa

    Trusted Media Summit yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo), Internews dan didukung oleh Google News Initiative, diadakan di Hotel Gran Melia, Jakarta, Sabtu 5 Mei 2018. Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia akan memberikan pelatihan kepada 3000 pemeriksa fakta atau fact checker jurnalis media massa, jurnalis kampus dan publik di sepanjang 2019. 

    Berita terkait: Situs Cek Fakta Diretas Sejak Pagi, Ini Kronologinya

    Sekretaris Jenderal AJI Indonesia Revolusi Riza Zulverdi menuturkan, target 3000 fact checker itu akan dicapai melalui pelatihan cek fakta. Program ini didukung oleh Internews dan Google News Initiative.

    Pada 2018 lalu, dalam program yang sama, AJI telah melatih 2.622 jurnalis media nasional dan daerah serta kampus. Riza berharap pelatihan ini bisa membuat penulisan pemberitaan lebih berhati-hati. "Agar tidak terjebak menyebarkan hoaks yang muncul di sosial media sebagai bahan berita,” kata dia dalam keterangan tertulis, Ahad, 14 April 2019?

    Pelatihan cek fakta ini diawali dengan training of trainers (ToT) yang sudah berlangsung selama empat hari sejak 11 April sampai hari ini 14 April 2019. Pelatihan ini melibatkan 40 jurnalis dari berbagai media, freelance dan perwakilan anggota Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI).

    Riza mencontohkan dampak signifikan dirasakan ketika terjadi bencana Palu 2018 lalu. “Saat tsunami Palu sulit melakukan verifikasi dan konfirmasi. Tidak berapa lama muncul gambar  dan video di media sosial tapi belum dapat dikonfirmasi. Ada kehati-hatian di newsroom memberitakan bencana di Palu, tidak seperti gempa di Jakarta 2017 yang sempat muncul banyak misinformasi,” kata dia.

     AJI Indonesia, kata Riza, berharap program ini dapat meningkatkan ketrmpilan jurnalis dan newsroom dalam melakukan verifikasi konten video, gambar dan informasi yang beredar di sosial media.  Selain itu, agar praktisi media juga selalu memastikan kebenaran informais sebelum mendistribusikan kembali ke public. “Agar tingkat kepercayaan masyarakat kepada media tetap terjaga,” kata dia. 

    Riza juga berharap newsroom semakin aktif melakukan cek fakta informasi yang bersumber dari sosial media, terutama saat Pemilu 2019.

    Saat ini AJI Indonesia memiliki 90 jurnalis sekaligus trainer fact checker yang siap dikirimkan ke berbagai daerah untuk memberikan training Cek Fakta di newsroom dan kampus. 

    AJI Indonesia juga sedang menyiapkan kelas online agar pengetahuan trainer pada perkembangan tools yang digunakan dan akan diberitakan dalam training terus meningkat.


  • AJI
  •  

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lembaga Survei: 5 Hal Penting dalam Quick Count Pilpres 2019

    Perkumpulan Survei Opini Publik angkat bicara soal quick count di Pemilu dan Pilpres 2019 yang diragukan kubu Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.