Panggung Rakyat untuk Peringati 2 Tahun Teror Novel Baswedan

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peringatan dua tahun teror Novel Baswedan. Istimewa

    Peringatan dua tahun teror Novel Baswedan. Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Sudah dua tahun mata kiri penyidik utama Komisi Pemberantasan Korupsi, Novel Baswedan, tak dapat melihat dengan sempurna. Hari ini, tepat dua tahun lalu, wajah Novel disiram air keras selepas salat subuh di masjid dekat rumahnya.

    Baca: Novel Baswedan: Copot Kapolri Jika Tak Bisa Ungkap Kasus Saya

    Identitas pelaku penyiraman masih gelap. Koalisi masyarakat sipil yang banyak bersuara melawan korupsi tak berhenti menyindir polisi dan pemerintah yang gagal menangkap pelaku teror. Peneliti Indonesia Corruption Watch, Wana Alamsyah, mengatakan kegagalan polisi mengungkap pelaku ini menjadi bukti teror yang tak berhenti terhadap Novel dan KPK.

    “Kejadiannya mungkin hanya sekali dua tahun lalu. Tapi pegawai KPK masih bekerja dalam teror karena pelaku masih bebas,” kata Wana, Rabu, 10 April 2019.

    Hari ini, ICW dan berbagai lembaga masyarakat sipil mendatangi kantor KPK. Bersama Wadah Pegawai KPK, mereka menyelenggarakan panggung rakyat, orasi, dan deklarasi antikorupsi di lobi KPK. Acara dihadiri Novel, tentu saja, musikus, gerakan mahasiswa, serikat buruh, dan banyak pendukung KPK lain.

    Baca: Novel Baswedan: Momen Pilpres Saat Tepat Tagih Penuntasan Kasus

    Di antara keramaian itu, dua sepeda berwarna hitam dan merah muda masih akan digeletakkan di pintu masuk KPK. Dua sepeda ini adalah hasil urunan Wadah Pegawai KPK. Orang yang bisa memberikan tip dan informasi tentang pelaku teror kepada Novel akan dihadiahi sepeda tersebut. Sayembara berhadiah sepeda ini seperti menyindir kuis berhadiah sepeda yang sering dilakukan Presiden Joko Widodo kepada tamunya di Istana Negara.

    Sepeda itu masih ada di lobi KPK hingga kemarin. Nyaris setahun sejak sayembara dibuka, pemenangnya belum ada. “Bukan hanya satu, dua atau lima sepeda pun akan kami siapkan,” ujar Ketua Wadah Pegawai KPK, Yudi Purnomo. Dalam peringatan dua tahun kasus Novel, Yudi mengatakan tak akan bosan menagih komitmen presiden untuk membentuk tim gabungan pencari fakta independen.

    Baca: Tim Gabungan Novel Baswedan: Belum Ada yang Bisa Dipublikasi

    Petisi untuk pembentukan TGPF juga telah diteken 184 ribu lebih netizen. Petisi berjudul: “Pak Jokowi, Bentuk Tim Independen untuk Kasus Novel” ini diluncurkan hanya beberapa jam setelah mata Novel Baswedan diguyur air keras.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.