Kopi: Ada Aliran Dana Perusahaan Asing ke Tim Kampanye Sandiaga

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komisioner KPU Hasyim Asy'ari (kiri) menerima Laporan Awal Dana Kampanye Pemilu 2019 dari Cawapres nomer urut 2 Sandiaga Uno (kanan) bersama tim pemenangan, di KPU, Jakarta, Ahad, 23 September 2018. Partai politik peserta Pemilu dan capres-cawapres dijadwalkan menyerahkan Laporan Awal Dana Kampanye (LADK) hari ini.  ANTARA/Reno Esnir

    Komisioner KPU Hasyim Asy'ari (kiri) menerima Laporan Awal Dana Kampanye Pemilu 2019 dari Cawapres nomer urut 2 Sandiaga Uno (kanan) bersama tim pemenangan, di KPU, Jakarta, Ahad, 23 September 2018. Partai politik peserta Pemilu dan capres-cawapres dijadwalkan menyerahkan Laporan Awal Dana Kampanye (LADK) hari ini. ANTARA/Reno Esnir

    TEMPO.CO, Jakarta - Komunitas Pemerhati Indonesia (Kopi) menemukan adanya dugaan aliran dana kampanye dari perusahaan asing kepada pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

    Baca: Lima Bulan Kampanye, Prabowo - Sandiaga Habiskan Rp 83 Miliar

    "Kami mendapati penelusuran dari Juli 2018-Maret 2019 menemukan adanya dana dari perusahaan asing mengucur pada pasangan 02," kata Dwie, tim investigasi Kopi dalam diskusi berjudul "Mendeteksi Dana Kampanye Pemilu 2019" di Upnormal Coffee, Jakarta, Senin, 8 April 2019.

    Ridwan, anggota lain tim investigasi Kopi, mengungkapkan aliran dana asing diduga kuat masuk ke enam rekening pribadi Sandiaga Uno di Bank Permata. Aliran dana itu yang berhulu dari tiga perusahaan asing dan terjadi menjelang Pilpres 2019.

    Infografis: Komposisi Dana Kampanye LPSDK Jokowi - Ma'ruf dan Prabowo - Sandiaga

    Perusahaan tersebut di antaranya Uno Capital Holding INC, Ace Power Investment Limited, dan Reksadana Schroders USD Bond Fund. "Total dugaan aliran dana asing yang masuk ke rekening Sandi Rp 276 miliar. Aliran dana asing masuk ke rekening pribadi Sandiaga dan diduga mengalir ke sejumlah rekening lain yang diduga sebagai dana kampanye," ujar Ridwan.

    Ridwan merinci, dari data yang didapat Kopi, aliran dana asing yang pertama diduga bersumber dari Uno Capital Holdings INC pada 28 Agustus 2018 sebanyak satu kali transaksi senilai Rp 51,9 miliar. Keterangan pada transaksi tersebut adalah external investment ittI80804*** dari Bank LGT Bank Singapore LTD. Perusahaan Uno Capital Holdings diduga dimiliki Sandiaga, Asia Abdul Aziz, dan Attica Finance Ltd.

    Selanjutnya, dari Ace Power Investment Limited pada 20 Juli 2018 sebanyak satu kali dengan nilai transaksi sejumlah Rp 1,2 miliar. Kemudian dari reksadana Schroders USD Bond Fund pada 31 Oktober dan 15 November 2018 sebanyak dua kali transaksi sejumlah Rp 223 miliar. PT Schroders Investment Management Indonesia, kata Ridwan, merupakan perusahaan manajer investasi yang 99 persen sahamnya dimiliki grup Schroders yang berpusat di Inggris.

    Ridwan menilai temuan Kopi bisa jadi benar seperti pernyataan yang pernah disampaikan Sandiaga, bahwa total dana kampanye yang dihabiskan dari uang pribadinya sebesar Rp 1,4 triliun. Padahal, dalam laporan penerimaan sumbangan dana kampanye, dana yang dihabiskan pasangan nomor 02 sampai Maret 2019 sebesar Rp 149,6 miliar.

    Direktur Luar Negeri Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga, Irawan Ronodipuro, mengaku tidak mengetahui kabar adanya aliran dana asing yang diduga sebagai dana kampanye ke sejumlah rekening calon wakil presiden nomor 02, Sandiaga Uno. "Saya tidak tahu dari mana tersiarnya. Laporan resmi (dana kampanye) sih sudah di KPU," kata Irawan saat ditemui di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Senin, 8 April 2019.

    Irawan mengatakan bahwa BPN hanya memegang data mengenai sumber-sumber penerimaan dana kampanye Prabowo-Sandiaga yang resmi dilaporkan ke Komisi Pemilihan Umum. Direktur Kampanye BPN Sugiono juga mengaku baru dengar adanya informasi dugaan aliran dana asing tersebut. "Saya tidak tahu. Saya malah baru dengar ini," kata Sugiono.

    Melalui suratnya kepada redaksi Tempo.co pada 10 April 2019, Presiden Direktur PT Schroders Investment Management Indonesia Michael T. Tjoajadi menegaskan bahwa Schroders ataupun anak perusahaannya tidak pernah berkontribusi dalam kampanye pemilihan presiden dan wakil presiden di Indonesia. "Schroders memiliki kebijakan global untuk tidak berkontribusi pada kegiatan politik apapun," kata Michael.  

    Selain itu, Schroders juga memastikan bahwa mereka tidak memberikan komentar mengenai individu, baik nasabah atau bukan. "Apa yang dilakukan seorang individu terhadap pencairan investasinya, adalah sepenuhnya hak individu tersebut untuk menentukan, dan tidak memiliki keterkaitan apapun dengan Schroders maupun anak perusahaannya," kata Michael lagi.

    Selain itu, Kopi juga menemukan adanya dugaan sumbangan dana kampanye fiktif pada pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor 01, Joko Widodo atau Jokowi - Ma'ruf Amin. "Data fiktif yang kami investigasi ada Rp 7 juta lebih. Dari total Rp 121 juta dana sumbangan dari perseorangan yang didapat 01, itu Rp 7 juta lebihnya sifatnya fiktif," kata Dwie.

    Simak juga: Cerita Sandiaga Uno Bicara Dana Kampanye dengan Prabowo Subianto 

    Dwie mengatakan ada 18 orang dengan identitas tidak jelas yang diduga fiktif menyumbangkan dana kampanye kepada pasangan Jokowi - Ma'ruf. Dwie juga mengungkapkan bahwa perkembangan penerimaan dana sumbangan dana kampanye paslon 01 terus meroket hingga Maret 2019.

    Catatan redaksi: Berita ini sudah diedit pada Senin, 8 April 2019 pukul 18.58 dengan memasukkan konfirmasi dari BPN. Pada Jumat, 12 April 2019 pukul 15.55 WIB, berita ini ditambah dengan bantahan dari PT Schroders Investment Management Indonesia dan koreksi pada judul dan isinya untuk memperbaiki akurasi.  Dengan demikian kesalahan sebelumnya telat diralat. Redaksi mohon maaf.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.