Yusril Ungkap Percakapan Rizieq Shihab Soal Keislaman Prabowo

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Bulan Bintang Yusril Ihza Mahendra saat ditemui di Bareskrim Polri, Jakarta Pusat, Senin, 16 April 2018. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    Ketua Umum Partai Bulan Bintang Yusril Ihza Mahendra saat ditemui di Bareskrim Polri, Jakarta Pusat, Senin, 16 April 2018. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra mengungkap isi percakapannya dengan pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab soal keislaman calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto pada Rabu, 3 April 2019.

    Baca juga: Kemlu Jawab Video Rizieq Shihab Soal Arahan Menlu di Pilpres

    Hal itu diungkapkan Yusril menanggapi video Rizieq yang diunggah di kanal YouTube Front TV, pada 1 April lalu. Dalam video itu, Rizieq membantah komunikasinya dengan Yusril yang juga membahas dukungan untuk Prabowo Subianto dalam pemilihan presiden 2019.

    "Yusril dan Habib tidak pernah berkomunikasi membahas Prabowo seperti dikatakan Habib Rizieq, itu bohong," kata Yusril lewat keterangan tertulis yang dikirimkan oleh Ketua Bidang Pemenangan PBB, Sukmo Harsono pada Rabu malam, 3 April 2019.

    Yusril kemudian menunjukkan bukti tangkapan layar perbincangan via WhatsApp antara dirinya dan Rizieq Shihab pada September 2018. Percakapan Whatsapp itu tercatat pada 5-6 September 2018. Di sana Yusril membuka perbincangan yang menyatakan akan umrah bersama keluarga pada 29-6 Oktober 2018. Di sela kegiatan ibadahnya, Yusril mengungkapkan keinginannya bertamu ke tempat Rizieq Shihab.

    Setelah perbincangan tersebut, Yusril melanjutkan pembicaraan soal dukungan PBB dalam Pilpres 2019. Yusril mengatakan sikap partainya sejalan dengan Rizieq dan tak akan menunggu ijtima' ulama II dan sikap para ulama Nahdlatul Ulama.

    Dalam perbincangan tersebut, keduanya kemudian membincangkan soal keislaman Prabowo serta kubu Islamfobia di lingkaran Prabowo. "Perhatikan dalam WA di atas Rizieq yang bilang 'PS lemah tentang Islam dan lingkarannya pun masih banyak yang Islamphobia. Itu tulisan Rizieq sendiri dalam WA yang jejak digitalnya bisa dijadikan bukti yang sangat sulit untuk dibantah," ujar dia.

    Yusril mengatakan, pembicaraan telepon antara Yusril dan Rizieq tidak ada rekamannya, tetapi komunikasi via WhatsApp di atas, ujar dia, telah cukup menunjukkan bahwa Rizieq yang menuding Yusril berbohong. "Ternyata dirinyalah si Raja Bohong yang sesungguhnya," ujar Yusril.

    Dalam foto percakapan yang dibagikan Yusril, Rizieq menyebut posisi mereka dilematis.

    "Dukungan Itjima untuk PS (Prabowo Subianto) harus berdampingan cawapres ulama justru karena kita tahu PS lemah tentang Islam dan lingkarannya pun masih banyak yang Islamophobia," kata Rizieq dalam tangkapan layar pembicaraan mereka.

    Anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra Andre Rosiade menyebut sikap Yusril tersebut tidak perlu ditanggapi serius. "Saya rasa urusan ini sudah clear dan Pak Prabowo sudah didukung Ijtima Ulama," ujar Andre saat dihubungi Tempo, secara terpisah.

    Baca juga: Kemlu Tak Akan Laporkan Rizieq Shihab Terkait Tuduhan di Video

    Lagipula, ujar Andre, Prabowo terang mengakui bahwa dirinya Islam abangan di forum Ijtima' Ulama. "Saya islam abangan, islam saya tidak baik, tapi saya tidak pernah kriminalisasi ulama', Pak Prabowo mengakui makanya beliau enggak mau jadi imam. Enggak perlu dipaksakan seperti orang sebelah, jadi imam difoto banyak orang. Screenshot Pak Yusril bagian dari orang kalap, takut kalah, alias panik," ujar Andre.

    Dalam video yang diunggah akun Youtube Front TV, Rizieq Shihab menjawab tudingan Yusril soal keislaman Prabowo. Menurut Rizieq apa yang dikatakan Yusril bahwa ia pernah menyebut bahwa Prabowo Islamnya tidak jelas adalah bohong. "Jadi itu tidak benar," kata dia.

    Menurut Rizieq Shihab, selama dua tahun berada di Arab Saudi, ia hanya pernah berkomunikasi lewat telepon dengan Yusril Ihza sebanyak satu kali. "Itu pun bukan dalam konteks Prabowo," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.