Bea Cukai Gandeng Pemda Priangan Timur Deklarasikan Stop Rokok Ilegal

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bea Cukai Tasikmalaya melaksanakan pemusnahan barang-barang hasil penindakan selama 2018 pada Selasa, 26 Maret 2019,

    Bea Cukai Tasikmalaya melaksanakan pemusnahan barang-barang hasil penindakan selama 2018 pada Selasa, 26 Maret 2019,

    INFO NASIONAL - Bersamaan dengan pemusnahan barang-barang hasil penindakan selama 2018 pada Selasa, 26 Maret 2019, Bea Cukai Tasikmalaya menggelar deklarasi stop rokok ilegal bersama jajaran pemerintah daerah Priangan Timur. Acara yang diadakan di halaman Kantor Bea Cukai Tasikmalaya itu dipimpin Kepala Kantor Bea Cukai Tasikmalaya.

    Sebagai bentuk deklarasi, perwakilan dari kedua belah pihak membubuhkan tanda tangan pada sebuah spanduk bertuliskan wall o9f commitment. “Deklarasi ini dilakukan karena sejauh ini masih banyak produsen tembakau yang masih ilegal,” ujar Kepala Kantor Bea Cukai Tasikmalaya Noviandi.

    Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman bersama bahwa di sekitar kita masih banyak terdapat rokok ilegal yang sangat merugikan penerimaan negara dan masyarakat. “Semoga ke depannya sinergi antarinstansi semakin baik dalam memberantas peredaran rokok ilegal dan kesadaran masyarakat terhadap merugikannya rokok ilegal semakin meningkat,” ucapnya.

    Terkait dengan barang-barang hasil penindakan selama 2018, telah dilakukan pemusnahan dengan cara pembakaran yang dihadiri perwakilan Kantor Wilayah Bea Cukai Jawa Barat serta instansi terkait.

    Noviandi menjelakan, barang-barang yang dimusnahkan tersebut terdiri atas 289.780 gram tembakau iris, 30.240 batang rokok, dan 12.995 ml vape liquid. “Barang-barang tersebut ditegah Bea Cukai Tasikmalaya karena ilegal dan terbukti kedapatan tanpa dilekati pita cukai atau dilekati pita cukai palsu,” tuturnya. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.