Romo Magnis Sebut Golput Melemahkan Demokrasi

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Franz Magnis Suseno (83), Rohaniawan Katolik dan Budayawan berpose mengenakan tas carrier saat di temui di Malang, Jawa Timur, 7 Februari 2019. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Franz Magnis Suseno (83), Rohaniawan Katolik dan Budayawan berpose mengenakan tas carrier saat di temui di Malang, Jawa Timur, 7 Februari 2019. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Rohaniwan dan budayawan Franz Magnis Suseno menegaskan penolakannya pada sikap golongan putih atau golput dalam Pemilihan Presiden 2019. Romo Magnis, sapaan akrabnya, menyebut pilihan tersebut merupakan bentuk deligitmasi terhadap proses demokrasi yang saat ini berjalan di Indonesia.

    Baca: Kata Fadli Zon Soal Ancaman Wiranto kepada Pihak yang Ajak Golput

    "Makin sedikit memilih, makin masyarakat menanggap demokrasi tak penting," kata Romo Magnis saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Sabtu, 30 Maret 2019.

    Mantan Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara itu menilai dengan memutuskan menjadi golput, artinya seorang tidak peduli dengan apa yang akan terjadi dengan Indonesia untuk lima tahun mendatang. Baik calon inkumben Joko Widodo maupun penantangnya Prabowo Subianto, menurut Romo Magnis memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

    Ia mengatakan selama empat tahun lebih menjabat presiden, Jokowi memang memiliki banyak kelemahan. Adapun Prabowo belum dapat dinilai sama sekali karena belum pernah menjabat.

    Namun setidak ideal apapun calon yang tersedia, tidak bisa dijadikan alasan untuk menjadi golput. "Kalau begitu, sekurang-kurangnya memastikan yang anda anggap paling buruk jangan terpilih. Dan itu logika internal yang kuat," kata pria berusia 82 tahun itu.

    Romo Magnis mengatakan menghormati orang yang memilih golput. Namun ia tetap menyebut golput ini sebagai hal yang berbahaya jika terus dibiarkan.

    "Golput akan memperlemah demokrasi kita yang belum mantap. Karena menunjukkan bagi mereka sama saja apakah bisa memilih atau tidak, dan itu akan membawa kita ke arah pemerintahan otoriter kembali," kata dia.

    Simak juga: Saat Mahfud MD Menganalogikan Golput dengan Menikah

    Karena itu, ia menyarankan pada masyarakat, khususnya pada generasi muda, untuk menetapkan hatinya dan menggunakan hak suaranya. Pilihan itu ia sebut akan menentukan nasib bangsa Indonesia untuk lima tahun ke depan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara