Kasus Bowo Sidik, Amplop Serangan Fajar Disimpan di 6 Lemari Besi

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menunjukkan barang bukti operasi tangkap tangan (OTT) di gedung KPK, Jakarta, Kamis, 28 Maret 2019. KPK menyita barang bukti 84 kardus berisi uang sebanyak Rp. 8 miliar, dalam dugaan suap kerjasama pengangkutan bidang pelayaran antara PT Pupuk Indonesia Logistik dengan PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK). TEMPO/Imam Sukamto

    Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menunjukkan barang bukti operasi tangkap tangan (OTT) di gedung KPK, Jakarta, Kamis, 28 Maret 2019. KPK menyita barang bukti 84 kardus berisi uang sebanyak Rp. 8 miliar, dalam dugaan suap kerjasama pengangkutan bidang pelayaran antara PT Pupuk Indonesia Logistik dengan PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK). TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah menyatakan ratusan ribu amplop berisi uang milik Anggota DPR Bowo Sidik Pangarso ditemukan di 6 lemari besi di kantor PT Inersia, Jakarta. Petugas menemukan saat operasi tangkap tangan pada Kamis, 28/3, silam. PT Inersia berada di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan.

    Berita terkait: Kasus Bowo Sidik, Duit Serangan Fajar Dikemas dalam 84 Kardus

     “Kotak-kotak amplop berisi uang tersebut ditemukan di 6 lemari besi,” kata juru bicara KPK Febri Diansyah dikonfirmasi, Sabtu, 30 Maret 2019. KPK menyatakan telah mengendus keberadaan uang tersebut sebelum melakukan operasi tangkap tangan terhadap Bowo Sidik di rumahnya di Cilandak, Jakarta, pada Kamis dini hari, 28 Maret 2019.

    Walhasil, setelah menangkap Bowo, tim KPK meluncur ke tempat yang diduga menjadi tempat Bowo menyimpan duit itu. Tim KPK tiba di kantor tersebut pada pukul 10.00 pagi. Di sana, mereka menemukan tumpukan kardus amplop yang diduga berisi uang ditaruh di dalam lemari besi.

    Dengan menggunakan 4 mobil, tim KPK membawa barang bukti penting itu ke Gedung KPK di Kuningan, Jakarta Selatan. Proses pengangkutan baru selesai pada sore hari.

    Dalam konferensi pers penetapan tersangka terhadap Bowo, Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan menyebut ada sekitar 400 ribu amplop yang disita KPK. Duit dalam amplop itu berbentuk pecahan Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu. Diperkirakan jumlah seluruhnya mencapai Rp 8 miliar.

    KPK menduga, Bowo menyiapkan uang itu untuk dibagi-bagikan menjelang pencoblosan atau serangan fajar pada Pemilu 2019, 17 Aprli 2019.

    Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan Bowo menjadi tersangka penerima suap terkait distribusi pupuk. KPK menyangka Bowo menerima suap dari Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti. Asty telah ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap.

    KPK menyangka Bowo menerima uang itu untuk membantu PT Humpuss dipilih menjadi pengangkut pupuk milik PT Pupuk Indonesia Logistik.

    KPK menduga Bowo sudah menerima 7 kali duit dari Asty dengan jumlah seluruhnya sekitar 1,6 miliar. Selain dari Asty, KPK menduga Bowo juga menerima duit sebanyak Rp 6,5 miliar dari pihak lainnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.