Ubah Kesan Corong Pemerintah, TVRI Perbarui Logo dan Konten

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo TVRI. wikipedia.org

    Logo TVRI. wikipedia.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Televisi Republik Indonesia atau TVRI mengubah logo perusahaan untuk memutus mata rantai kesan bahwa lembaga penyiaran publik ini adalah corong pemerintah. "Jadi harus didorong identitas baru, semangat baru," kata Direktur Program dan Berita TVRI Apni Jaya Putra kepada Tempo, Sabtu, 30 Maret 2019.

    Apni mengatakan, selain mengubah kesan sebagai corong pemerintah, TVRI memiliki visi menjadi lembaga penyiaran kelas dunia. Sehingga, re-branding yang didorong bukan hanya logo, tetapi mencakup reformasi birokrasi, yaitu menciptakan identitas dan budaya korporasi baru.

    "Kita ingin ubah mindset sebuah korporasi, itu adalah perubahan dari TVRI. (Dari) lembaga yang terkesan sebagai lembaga birokrasi menjadi lembaga kreatif," ujar dia.

    Sebagai bentuk tanggung jawab penggunaan anggaran dari masyarakat, Apni mengatakan TVRI akan menyajikan program-program yang bermutu dan memperkaya khasanah pengetahuan masyarakat.

    Karena itu, ia pun menyiapkan sejumlah program siaran unggulan, di antaranya penayangan major event bulu tangkis dunia yang digelar Badminton World Federation (BWF) hingga 3 tahun ke depan. Lalu ada Coppa Italia untuk 3 tahun ke depan, dan tayangan Discovery Channel di jam tayang utama (prime time).

    Selain itu, TVRI juga memiliki program unggulan sendiri berupa dokumenter internal, yaitu Jelajah Kopi dan Pesona Indonesia.

    Untuk membuat TVRI semakin mendunia, Apni mengatakan ada empat macam kerja sama yang dilakukan bersama Discovery Channel, yaitu penayangan, cross promotion, cross selling, dan distribusi. "Poin penting kerja sama dengan Discovery itu adalah bagaimana peluang produk TVRI bisa mendunia melalui jalur distribusi Discovery," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?