Amien Rais Singgung Jin Genderuwo, KPU: Sesuatu yang Imajinatif

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komisioner KPU Wahyu Setiawan (ketiga kiri), Ketua Bawaslu Abhan (ketiga kanan), Direktur Program TKN Jokowi-Ma'ruf Aria Bima (kedua kiri), dan Direktur Relawan BPN Prabowo-Sandi Ferry Mursyidan Baldan (kedua kanan) berfoto bersama menunjukkan hasil rapat persiapan debat keempat di Kantor KPU, Jakarta, 25 Maret 2019. Hasil rapat tersebut memutuskan TV penyelenggara debat keempat adalah grup EMTEK dan Metro TV serta Moderator Retno Pinasti dan Zulfikar Naghi. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Komisioner KPU Wahyu Setiawan (ketiga kiri), Ketua Bawaslu Abhan (ketiga kanan), Direktur Program TKN Jokowi-Ma'ruf Aria Bima (kedua kiri), dan Direktur Relawan BPN Prabowo-Sandi Ferry Mursyidan Baldan (kedua kanan) berfoto bersama menunjukkan hasil rapat persiapan debat keempat di Kantor KPU, Jakarta, 25 Maret 2019. Hasil rapat tersebut memutuskan TV penyelenggara debat keempat adalah grup EMTEK dan Metro TV serta Moderator Retno Pinasti dan Zulfikar Naghi. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisiner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan angkat bicara perihal tudingan adanya jin dan genderuwo yang dilontarkan oleh Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais.

    Baca: Manajemen Bantah Amien Rais Soal Misteri di Hotel Borobudur

    "KPU harus mengeluarkan energi yang tidak perlu untuk menjelaskan sesuatu yang sebenarnya itu imajinatif," kata Wahyu di Balai Kartini, Jakarta Selatan pada Kamis, 28 Maret 2019.

    Isu adanya jin dan genderuwo ini ramai diperbincangkan pasca Amien Rais menolak jika perhitungan suara Pemilu 2019 dilakukan di Hotel Borobudur. Ia curiga bakal terjadi kecurangan oleh pihak yang dia analogikan sebagai jin dan genderuwo.

    "Selain DPT harus segera dibenahi, besok penghitungan hasil pemilu jangan pernah di Hotel Borobudur. Mereka banyak jin banyak genderuwo di sana," ujar Amien pada 26 Maret 2019.

    Amien menyampaikan KPU terlalu sering menjadikan Hotel Borobudur sebagai lokasi penghitungan suara tingkat nasional. Ia pun menuding lembaga itu selalu gagal menjaga keamanan penghitungan suara

    "Saya tahu di sana banyak sekali hacker dan lain-lain. Jadi kita yang sadar, jangan pernah di Borobudur. Apa Borobudur itu? Lebih baik di KPU atau DPR," ujar Amien.

    Simak juga: Alasan Amien Rais Minta Hitung Suara Tidak di Hotel Borobudur

    Wahyu lantas menjelaskan, sejak Pemilu 2014, perhitungan suara hasil pemilu selalu dilakukan di kantornya di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Di Pemilu 2019 ini pun KPU tetap akan melakukan perhitungan suara di kantornya. "Jadi kami tidak paham apa yang dimaksud dengan pernyataan kenapa selalu Hotel Borobudur," ucap Wahyu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.