Buya Syafii Beri Contoh Virus Intoleransi Rusak Anak-anak

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ahmad Syafii Maarif menyampaikan sambutan dalam acara Diversity Award 2018 di Wisma Antara, Jakarta, 29 Maret 2018. Tempo/Vindry

    Ahmad Syafii Maarif menyampaikan sambutan dalam acara Diversity Award 2018 di Wisma Antara, Jakarta, 29 Maret 2018. Tempo/Vindry

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii berpendapat virus intoleransi masih sedang merusak sendi-sendi bangsa Indonesia.

    Baca: Buya Syafii: Bodohnya Ulama Kalau Mau Jadi Rebutan Para Capres

    Buya menuturkan virus intoleransi itu bekerja di berbagai sektor termasuk lembaga pendidikan seperti sekolah. "Contoh kecilnya, kalau ada seorang murid di sekolah itu sudah merasa tidak nyaman bersama dengan murid lain yang berbeda agama dengannya," ujar Buya di sela Pelatihan Pengawas Sekolah Program memperkuat Peran Auditor dan Pengawas Sekolah dalam Mempromosikan Toleransi dan Mulikulturalisme di Yogyakarta Senin 25 Maret 2019.

    Buya menuturkan virus intoleransi itu, perlahan namun pasti, berusaha membuat Indonesia makin terlepas dari kultur kebhinekaan seperti tercermin dalam nilai Pancasila. "Bangsa ini memang plural, itu sebuah keniscayaan yang harus diakui, jadi jangan sampai virus itu dipakai untuk merusak kebangsaan," ujarnya.

    Meski demikian, Buya menuturkan, virus virus intoleransi itu masih bisa diantisipasi dan diatasi. Buya mengapresiasi para pendidik dan guru yang serius bekerja membasmi virus intoleransi yang bertumbuh kian pesat. Terlebih ketika virus dari ideologi yang dihembuskan dari negara negara yang sedang jatuh itu ikut disebarkan dengan muatan politik.

    "Pendidikan multikulturalisme semakin penting dalam era ini, tekankan terus agar tidak mengkhianati sumpah pemuda karena virus intoleransi itu muncul karena mungkin ada rantai pendidikan yang terputus," kata dia.

    Simak juga: Cucu Ahmad Dahlan ke Prabowo, Syafii: Tak Wakili Muhammadiyah

    Buya Syafii menuturkan pemahaman multikulturalisme bisa digenjot melalui berbagai ruang formal dan informal. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.