OTT Direktur Krakatau Steel, KPK Tangkap 2 Orang Lagi

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Febri Diansyah di kantornya, Jakarta Selatan pada 15 November 2018. TEMPO/Andita Rahma

    Juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Febri Diansyah di kantornya, Jakarta Selatan pada 15 November 2018. TEMPO/Andita Rahma

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap dua orang terkait operasi tangkap tangan (OTT) yang menyeret salah satu Direktur PT Krakatau Steel. Dua orang tersebut dari unsur kontraktor swasta dan pegawai BUMN.

    Baca: KPK Dalami Aliran Transaksi di OTT Direktur Krakatau Steel

    "Sampai pagi ini ada dua orang lagi yang dibawa ke kantor KPK dari unsur kontraktor swasta dan pegawai BUMN," kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Sabtu, 23 Maret 2019. Sebelumnya, KPK sudah terlebih dulu mengamankan empat orang. Saat ini, mereka masih menjalani pemeriksaan awal.

    Dalam OTT ini, KPK menduga terjadi transaksi antara Direktur PT Krakatau Steel dengan pihak swasta. Pemberian uang itu dilakukan secara tunai dan melalui perbankan baik. "Ada uang yang diamankan. Kita juga mendalami transaksi yang menggunakan sarana perbankan," kata Febri. Transkasi tersebut juga menggunakan rupiah maupun dolar.

    Febri mengatakan KPK belum bisa merinci berapa total uang yang diamankan dalam OTT tersebut. "Belum ada, sedang kami dalami juga indikasi transaksi, ada mekanisme yang digabungkan antara mekanisme "cash" dan perbankan," kata Febri.

    Simak juga: OTT Direktur Krakatau Steel, Ini Alasan KPK Bekuk Kontraktor

    Empat orang ditangkap KPK dalam rangkaian OTT Direktur Krakatau Steel di Jakarta dan Tangerang Selatan, Jumat sore, 22 Maret 2019. Selain Direktur PT Krakratu Steel, KPK juga turut mengamankan pegawai PT Krakatau Steel dan pihak swasta.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa saja Tanda-tanda Perekonomian Indonesia di Ambang Resesi

    Perekonomian Indonesia semakin dekat dengan kondisi resesi teknikal. Kapan suatu negara dianggap masuk ke dalam kondisi resesi?