Terduga Teroris Tewas Minum Cairan, Polri Tunggu Hasil Labfor

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo saat menggelar konferensi pers insiden penembakan Sulawesi Tengah, di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan pada Senin, 31 Desember 2018 (Andita Rahma)

    Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo saat menggelar konferensi pers insiden penembakan Sulawesi Tengah, di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan pada Senin, 31 Desember 2018 (Andita Rahma)

    TEMPO.CO, Jakarta - Polri hingga kini masih menunggu hasil laboratorium forensik perihal penyebab tewasnya terduga teroris Y alias Khodijah. Ia diduga bunuh diri dengan cara meminum cairan pembersih saat berada di rumah tahanan Polda Metro Jaya.

    Baca: Terduga Teroris Meninggal Dunia di Rumah Sakit Polri Kramat Jati

    "Sedang tunggu hasil laboratorium forensik untuk mencocokkan temuan zat kimia di dalam perut dengan barang yang ada di lokasi kejadian. Identik engga," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo di kantornya, Jakarta Selatan, pada Kamis, 21 Maret 2019.

    Khodijah tewas di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, pada 18 Maret 2019 lalu. Dia ditemukan lemas di ruang istirahat pemeriksaan di rutan Polda Metro Jaya dan sempat mendapatkan pertolongan pertama dari petugas jaga.

    Namun, karena kondisinya tak membaik, Khodijah dirujuk ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. "Sempat ditolong oleh tim medis, ternyata tidak tertolong. Akhirnya meninggal dunia," ujar Dedi.

    Tim dokter forensik menemukan zat kimia berbahaya di dalam lambung Khodijah. Dedi meyakini dia sengaja ingin mengakhiri hidupnya. Berdasarkan pemahaman kelompok teroris, kata Dedi, bunuh diri dalam rangka melawan aparat yang disebut sebagai toghut diyakini sebagai syahid yang dijamin masuk surga. 

    "Yang bersangkutan memang bunuh diri karena mungkin memang tidak bisa melakukan perlawanan yang dalam (kepada aparat)," ucap Dedi. Lebih lanjut ia menuturkan, terduga teroris wanita biasanya memiliki militansi yang lebih tinggi. Mereka rela meninggalkan keluarga, mengorbankan harta, bahkan nyawanya untuk aksi yang mereka sebut sebagai jihad.

    Khodijah ditangkap di Klaten, Jawa Tengah, pada 14 Maret 2019. Dia diduga terlibat dalam kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) pimpinan Husain alias Abu Hamzah yang dibekuk di Sibolga, Sumatera Utara.

    Baca: Densus 88 Tangkap Seorang Terduga Teroris di Kalimantan Timur

    Rencananya, ia akan ke Sibolga menemui Abu Hamzah untuk melakukan amaliyah atau aksi teror bersama dengan target aparat keamanan. Namun sebelum berangkat, terduga teroris itu lebih dulu ditangkap tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.