Suharso Monoarfa Cerita Kejatuhan PPP Setelah Pemilu 2004

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suharso Monoarfa menjadi pelaksana tugas atau Plt Ketua umum PPP dalam sidang pleno Mukernas PPP di Hotel Seruni, Cisarua, Bogor pada Rabu malam, 20 Maret 2019. TEMPO/Dewi Nurita

    Suharso Monoarfa menjadi pelaksana tugas atau Plt Ketua umum PPP dalam sidang pleno Mukernas PPP di Hotel Seruni, Cisarua, Bogor pada Rabu malam, 20 Maret 2019. TEMPO/Dewi Nurita

    TEMPO.CO, Jakarta - Plt Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Suharso Monoarfa mengatakan, setelah tahun 2004, partai yang sempat memiliki 58 hingga 59 kursi dalam pemilu tersebut, perlahan mengalami kemerosotan.

    Baca: Suharso Monoarfa Tegaskan Jadi Plt Ketum PPP Sesuai AD/ART

    “Apa yang salah dengan kita. Mungkin ada sesuatu yang membuat kita begini,” kata Suharso saat menyampaikan pidatonya usai dikukuhkan sebagai Plt Ketua Umum PPP dalam Mukernas III PPP di Bogor, Rabu 20 Maret 2019.

    Suharso mengatakan, PPP sempat berjaya saat dipimpin oleh Hamzah Haz dengan memiliki 59 DPR, eksekutif, yudikatif dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

    “Tetapi berhenti setelah 2004. Sejak itu sejarah kita adalah sejarah yang kelabu,” kata Suharso.“ Makanya saya mengajak semua mengintrospeksi."

    Dalam pidatonya, beberapa kali Suharso menghapuskan air matanya terlebih saat mengulas berbagai permasalahan-permasalahan partai berlambang Ka'bah tersebut .

    “Lambang (partai) kita luar biasa, tetapi kita seperti memperolok-olokan,” kata Suharso.

    Suharso pun sempat menyinggung soal ditangkapnya Romahurmuzy oleh KPK dalam Operasi Tangkap Tangan di Surabaya.

    Simak: Maimoen Zubair 5 Kali Minta Suharso Monoarfa Jadi Plt Ketum PPP?

    “Saya tidak mengira, bahwa itu terjadi pada seseorang yang saya anggap sebagai calon pemimpin bangsa, semua dia (Romahurmuzy) punya bibit, bebet bobotnya,” kata Suharso sambil menitihkan air mata.

    Terakhir, dalam pidatonya, Suharso mengajak para kadernya untuk kembali bangkit, “Saya bukan plt ketum, saya adalah fasilitator, saya punya harapan, saya punya keyakinan. Hanya dengan keyakinan dan kesabaran dan kerja bareng, kita bisa bangkit. Saya tidak mau kita semua tenggelam dalam suatu kesedihan meskipun itu saya alami dua tiga hari ini,” katanya.

    Diketahui, dalam Mukernas III PPP di Bogor, dari 34 DPW hanya 33 DPW yang hadir. Selain itu dalam Mukernas juga hadir Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, mantan Menteri Sosial periode 2001-2009, Bachtiar Chamsyah, Sekertaris Jenderal (Sekjen) PPP, Arsul Sani, dan Bupati Bogor Ade Yasin


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sulli dan Artis SM Entertaintment yang juga Tewas Bunuh Diri

    Sulli, yang bernama asli Choi Jin-ri ditemukan tewas oleh managernya pada 14 Oktober 2019. Ada bintang SM lainnya yang juga meninggal bunuh diri.