Erwin Aksa Cerita Keluarga Besar yang Kerap Beda Pilihan Politik

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Postingan akun Instagram anggota Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang menunjukkan kehadiran pengusaha Sulawesi Selatan Erwin Aksa di barisan pendukung 02 saat debat calon wakil presiden di Hotel Sultan, Jakarta, Ahad malam, 17 Maret 2019. Instagram/miftah.sabri

    Postingan akun Instagram anggota Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang menunjukkan kehadiran pengusaha Sulawesi Selatan Erwin Aksa di barisan pendukung 02 saat debat calon wakil presiden di Hotel Sultan, Jakarta, Ahad malam, 17 Maret 2019. Instagram/miftah.sabri

    TEMPO.CO, Jakarta - Politikus Golkar Erwin Aksa mengatakan berbeda pendapat adalah hal biasa dalam keluarga besarnya. Perbedaan pilihan politik tidak hanya terjadi pada saat pemilihan presiden 2019 saja, tetapi dalam banyak momen. Saat ini, ia memilih mendukung Prabowo - Sandiaga, sedangkan keluarga ayahnya, pengusaha Aksa Mahmud dan pamannya, Jusuf Kalla mendukung Jokowi - Ma’ruf.

    Sewaktu Syahrul Yasin Limpo (eks Gubernur Sulawesi Selatan) maju melawan inkumben yang juga Ketua Golkar Sulsel, ia juga berbeda pilihan dengan ayahnya dan JK. “Saya dukung Pak Syahrul, sahabat saya," kata ujar pengusaha itu saat dihubungi Tempo pada Senin malam, 18 Maret 2019.

    Baca: Erwin Aksa Cerita Keputusan Mendukung Prabowo Ketimbang Jokowi

    Begitu pula ketika Aburizal Bakrie dan Surya Paloh berebut kursi ketua umum Golkar di Munas 2009. Erwin Aksa berada di kubu Aburizal sementara ayahnya dan Jusuf Kalla mendukung Surya Paloh. "Jadi perbedaan politik dan demokrasi di keluarga kami merupakan hal yang biasa. Kadang kami bersama dan bersatu, contohnya di Pilkada DKI lalu," ujar Erwin Aksa.

    Dalam pilpres ini pun, ujar sahabat Sandiaga Uno itu, lagi-lagi berbeda pilihan. Namun, Erwin mengatakan tetap akan menjaga soliditas Golkar sebagai partai besar. Dalam konteks ini, Erwin tidak pernah mengatasnamakan Golkar dan berbicara karena ia bukan jubir Prabowo - Sandiaga atau anggota timses. “Saya memberi dukungan kepada Sandiaga sebagai sahabat," ujar dia.

    Baca: BPN Prabowo Sebut Erwin Aksa dari Awal ...

    Partai Golkar menetapkan sanksi  bagi para kadernya yang dinilai keluar dari garis dan kebijakan partai. Sesuai aturan organisasi, setiap kader yang melanggar bisa mendapat konsekuensi berupa teguran lisan, tertulis, sampai yang paling berat sanksi diberhentikan.

    "Kami masih menunggu klarifikasi ataupun penjelasan dari Mas Erwin Aksa terkait dukungan kepada 02. Jadi masih berproses," ujar Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Bidang Media dan Penggalangan Opini Partai Golkar, Meutya Hafid saat dihubungi terpisah.

    Tonton: Erwin Aksa Dukung Sandiaga, Begini Reaksi Golkar


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.