KWI dan Umat Katolik Kecam Penembakan Masjid di Selandia Baru

Reporter:
Editor:

Elik Susanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua KWI Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo memberikan keterangan dihadapan wartawan setelah memimpin misa di gereja Katedral, Jakarta,  13 Mei 2018. TEMPO/Maria Fransisca Lahur.

    Ketua KWI Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo memberikan keterangan dihadapan wartawan setelah memimpin misa di gereja Katedral, Jakarta, 13 Mei 2018. TEMPO/Maria Fransisca Lahur.

    TEMPO.CO, Jakarta - Konferensi Wali Gereja Indonesia atau KWI dan umat Katolik Indonesia mengeluarkan pernyataan sikap dalam kasus teror yaitu penembakan masjid di Selandia Baru. KWI mengecam aksi penembakan terhadap dua masjid di negeri itu yang menewaskan 49 orang pada Jumat, 15 Maret 2019.

    Baca: Pelaku Penembakan Masjid di Selandia Baru Aktif di Media Sosial

    "KWI dan seluruh umat Katolik Indonesia menyampaikan duka cita yang mendalam kepada para korban dan keluarga korban," bunyi pernyataan sikap yang terbit pada Jumat, 15 Maret 2019 dan ditandatangani Ketua KWI Mgr Ignatius Suharyo itu.

    Menurut KWI, tindakan penyerangan terhadap dua masjid di Cristchurch dan pinggiran Linwood itu sungguh tidak beradab. Aksi itu bertentangan dengan nilai-nilai agama apa pun dan nilai-nilai kemanusiaan universal. KWI dan umat Katolik Indonesia mendesak agar para pelaku diproses sesuai hukum yang berlaku di Selandia Baru.

    "KWI dan umat Katolik Indonesia mengimbau dan berharap peristiwa di Selandia Baru itu tidak merusak hubungan antarumat beragama dan antaretnis yang berbeda terutama di Indonesia yang selama ini sudah berjalan baik," bunyi poin terakhir pernyataan tertulis yang diterima Tempo pada Sabtu, 16 Maret 2019.

    Peristiwa itu terjadi ketika umat Islam sedang melaksanakan salat Jumat. Mereka tiba-tiba diberondong peluru. Kepolisian Selandia Baru mengatakan jumlah korban meninggal akibat penembakan di dua masjid sebanyak 49 orang dan seorang lelaki dari empat orang yang ditangkap. Sebanyak 41 orang meninggal di satu masjid, tujuh lagi serta satu orang meninggal di rumah sakit.

    Pelaku penembakan mengaku bernama Brenton Harrison Tarrant. Alasannya melakukan penyerangan adalah mengurangi tingkat imigrasi di tanah bangsa Eropa. Pernyataan ini terungkap dalam manifesto 73 halaman yang diunggah di sosial media sebelum dia melakukan serangan pada Jumat, 15 Maret 2019.

    “Untuk menunjukkan kepada pelaku invasi bahwa tanah kita tidak akan pernah menjadi tanah mereka. Dan tanah air kita adalah milik kita dan selama orang kulit putih masih hidup, mereka tidak akan pernah bisa menaklukkan tanah kita dan mereka tidak akan pernah menggantikan bangsa kita,” begitu salah satu pernyataan Tarrant seperti di News pada Jumat, 15 Maret 2019.

    Kecaman juga datang dari berbagai kepala negara, termasuk Presiden RI Joko Widodo yang prihatin dengan peristiwa di Selandia Baru itu. Presiden Turki, Tayyip Erdogan, melalui juru bicaranya mengutuk serangan yang disebutnya rasis dan fasis.

    "Serangan ini memperlihatkan titik permusuhan pada Islam dan umat Islam. Kami telah melihat berkali-kali wacana Islamofobik melawan Islam dan umat Islam yang telah menjadi ideologi yang sesat dan mematikan. Dunia harus bersuara lebih kencang terhadap wacana seperti itu dan harus mengatakan berhenti pada terorisme fasis Islamofobia," kata juru bicara Presiden Erdogan, Ibrahim Kalin, menanggapi kasus di Selandia Baru itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.