Terduga Teroris Abu Riky Diduga Terlibat di Ledakan Nobar Capres

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anggota teroris. shutterstock.com

    Ilustrasi anggota teroris. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Polisi masih mendalami keterlibatan terduga teroris Riky Gustiadi alias Abu Riky dalam kasus ledakan yang terjadi di parkir timur Senayan, Jakarta, ketika nonton bareng debat calon presiden ke-2 pada 17 Februari lalu. Riky ditangkap oleh tim Detasemen Khusus 88 Antiteror di Riau pada 14 Maret 2019.

    Baca: Densus 88 Tangkap Terduga Teroris Provokator Teror ke Polisi

    Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan Abu Riky yang sehari-hari bekerja sebagai penjual makaroni itu diduga terlibat dalam sejumlah kasus terorisme. Rata-rata, ia melakukan propaganda melalui media sosial.

    Dedi menyebutkan indikasi keterlibatan Abu Riky dalam ledakan saat debat capres di Senayan. "Dia mengunggah video TKP ledakan di Parkiran Timur Senayan ke Group Channel Media Khilafah," ujarnya di kantornya, Jakarta Selatan pada Jumat, 15 Maret 2019.

    Abu Riky diketahui juga mengunggah poster propaganda bergambar poster ISIS di Filipina serta ungkapan kebencian terhadap Densus 88 ke dua grup media sosial. Apalagi dia aktif di beberapa chanel dan grup yang banyak berisi propaganda ISIS.

    "Dia juga mengarahkan anggota grup WA untuk melakukan amaliah dengan sasaran aparat keamanan khususnya polisi," ucap Dedi.

    Abu Riky ditangkap di jalan utama Kelurahan Bagan Kota, Kabupaten Rokan Hilir, Riau pada 14 Maret 2019, pukul 08.25 WIB. Rumahnya digeledah polisi untuk mencari barang bukti keterkaitan dia dalam terorisme.

    Baca juga:  Densus Ungsikan Tetangga di Sekitar Rumah Terduga Teroris Sibolga

    Dari penggeledahan itu, polisi menyita barang bukti berupa delapan buah anak panah, busur panah, face target, dua ponsel, stunt gun, jaket dan topi tactical, buku rekening, charger ponsel dan laptop, serta tas warna hitam. Riky dibawa ke Markas Kepolisian Daerah Riau untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.