Jokowi: Tahu Defisit tapi Enggak Diselesaikan, Bodoh Banget

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi Presiden Joko Widodo atau Jokowi saat memberi arahan pada Peresmian Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Investasi Tahun 2019 di Tangerang, Banten, Selasa 12 Maret 2019. TEMPO/Subekti.

    Ekspresi Presiden Joko Widodo atau Jokowi saat memberi arahan pada Peresmian Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Investasi Tahun 2019 di Tangerang, Banten, Selasa 12 Maret 2019. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Banten - Presiden Joko Widodo atau Jokowi kesal karena Indonesia kerap mengalami defisit neraca perdagangan. Saking kesalnya Jokowi bahkan sampai mengucapkan kata 'bodoh' saat mengungkapkan ekspresinya itu.

    "Tahu kesalahan kita, tahu kekurangan kita, rupiahnya berapa defisit kita tahu, kok enggak kita selesaikan? Bodoh banget kita kalau seperti itu," katanya saat membuka rapat koordinasi nasional investasi di Nusantara Hall, Indonesia Convention Exhibition (ICE) Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, Banten, Selasa, 12 Maret 2019.

    Baca: Bertemu Siti Aisyah, Jokowi: Kepedulian ...

    Jokowi menjelaskan sejatinya semua pihak sudah mengetahui cara untuk menyelesaikan masalah defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan itu, yakni lewat meningkatkan investasi dan ekspor. "Defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan membebani kita berpuluh-puluh tahun tapi tidak diselesaikan.”

    Sayangnya, kata dia, meski sudah puluhan tahun defisit tapi tak kunjung ada penyelesaian. “Padahal kuncinya kita tahu investasi dan ekspor, kuncinya di situ."

    Baca: Jokowi Wacanakan Bentuk Kementerian Investasi dan Ekspor

    Ia meminta pemerintah pusat dan daerah mempermudah proses perizinan untuk investor demi menggenjot investasi dan ekspor. Jokowi mewanti-wanti agar jangan  sampai nilai investasi dan ekspor Indonesia kalah oleh Kamboja dan Laos. Pasalnya Indonesia telah tertinggal dari Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.

    Saking geramnya dengan kondisi investasi dan ekspor Indonesia, Jokowi melontarkan wacana di rapat kabinet untuk membuat kementerian yang khusus mengurusi dua hal itu. "Apakah perlu dalam situasi seperti ini yang namanya menteri investasi dan menteri ekspor?" Ia berdalih sudah banyak negara yang memiliki kementerian investasi dan ekspor.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Realitas Versus Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia

    Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia 2017-2019 mencatat luas area perkebunan 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Namun realitas berkata lain.