Aktivis 98 Akan Duduki Gedung DPR

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Juru Bicara Forum Aktivis 98 Julianto Hendro Cahyono mengatakan pihaknya akan menggalang massa untuk menduduki Gedung MPR/DPR dalam waktu dekat. "Sekarang sedang konsolidasi," katanya disela pertemuan para aktivis 98 di Gedong Joang 45, Jakarta, Minggu (02/03).Pertemuan yang dihadiri sekitar 30 aktivis 98 dari berbagai lembaga tersebut belum menentukan kapan aksi ke Gedung MPR/DPR akan digelar. Namun, masing-masing perwakilan menyatakan siap turun ke jalan membawa massa. "Saya akan kerahkan korban HAM untuk duduki DPR," kata Usman Hamid dari Kontras. Selain Hamid, hadir dalam pertemuan tersebut Adian Napitupulu dari Forum Kota (Forkot), aktivis Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ) Sarbini, aktivis Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (ISMEI) Tommy Rahadian, dan sejumlah aktivis 98 lainnya. Rencana menduduki Gedung MPR/DPR, kata Julianto Hendro Cahyono, untuk mengingatkan masyarakat bahwa reformasi yang digulirkan pada 1998 macet. Situasi saat ini, lanjutnya, justru tidak lebih baik dari sebelum reformasi digulirkan. "Banyak agenda reformasi yang belum tuntas, kami akan gulirkan lagi," katanya. Reformasi, ia mencontohkan, belum berhasil mengubah sistem dan aparat hukum menjadi lebih baik. "Kroni-kroni Seoharto dan obligor BLBI belum disentuh hukum," katanya. Selain itu, lanjutnya, reformasi juga belum meningkatkan kesejahteraan rakyat. "Padahal ini sudah tahun ke-10 reformasi," katanya. Selain berencana menduduki Gedung MPR/DPR. para aktivis 98 juga mengagendakan aksi mogok makan. Aksi ini, kata Adian Napitupulu, sengaja dilakukan untuk mengkonsolidasikan para aktivis 98. "Untuk memurnikan tujuan kami," katanya. Sejumlah aktivis menyambut baik usulan tersebut. Namun belum diputuskan kapan aksi mogok makan tersebut akan dilakukan. (Dwi Riyanto Agustiar)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.