4 Poin Pidato Jokowi di Deklarasi Jabar Ngahiji

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo atau Jokowi, menghadiri deklarasi dukungan Jabar Ngahiji di Monumen Perjuangan, Kota Bandung, 10 Maret 2019. Tempo/Friski Riana

    Calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo atau Jokowi, menghadiri deklarasi dukungan Jabar Ngahiji di Monumen Perjuangan, Kota Bandung, 10 Maret 2019. Tempo/Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo atau Jokowi, menghadiri deklarasi dukungan dari alumni Jabar Ngahiji di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Kota Bandung, Ahad, 10 Maret 2019.

    Baca: Deklarasi Alumni Jabar Ngahiji, Jokowi Unjuk Pengalaman

    Jabar Ngahiji terdiri dari alumni perguruan tinggi, alumni SMA, relawan, komunitas, dan masyarakat Jawa Barat. Dalam pidatonya, Jokowi menyampaikan beberapa hal sebagai berikut.

    1. Indonesia Besar, Jangan Diberikan pada yang Tak Pengalaman

    Jokowi mulanya mengatakan dirinya beruntung memiliki pengalaman di pemerintahan sebagai Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, dan Presiden RI. Pengalaman itu menjadi motivasi dia dalam mengelola pemerintahan dan negara sebesar Indonesia.

    Jokowi mengatakan tidak mudah mengelola Indonesia dengan jumlah penduduk sebesar 269 juta jiwa. Ia meminta relawannya berhati-hati dalam memilih pemimpin. "Kalau diberikan kepada yang belum berpengalaman bagaimana jadinya. Jangan dipikir mudah, dipikir gampang," katanya.

    2. Lawan Isu Hoaks

    Jokowi meminta para relawan untuk berani menyatakan mana yang benar dan salah. Memiliki latar belakang sebagai intelektual, para relawan diminta mengedukasi masyarakat. Sebab, saat ini sejumlah isu hoaks telah disebarkan melalui pintu ke pintu. Isu tersebut di antaranya, larangan azan, menghapus pendidikan agama, kriminalisasi ulama, dan antek asing.

    Baca: Jokowi Minta Relawannya Lawan 5 Isu Hoaks


    Calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo atau Jokowi, menghadiri deklarasi dukungan Jabar Ngahiji di Monumen Perjuangan, Kota Bandung, 10 Maret 2019. Tempo/Friski Riana

    3. Singgung yang Teriak Pasal 33 tapi Punya Lahan 5 Kali Luas DKI

    Jokowi menyinggung soal lawan-lawan politiknya yang kerap menyerukan penerapan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.

    "Jangan sampai ada yang teriak-teriak pesimisme lagi. Jangan juga ada yang teriak-teriak Pasal 33, Pasal 33, jangan sampai ada lagi yang teriak-teriak 1 persen menguasai 90 persen aset. Tapi dia sendiri memiliki 5 kali Provinsi Jakarta lahannya," kata Jokowi.

    Salah satu ayat dalam Pasal 33 UUD 1945 berbunyi, ”Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.

    Jokowi memang tak menyebut nama. Namun, perkataannya ini seolah menjawab kubu Prabowo Subianto yang kerap menyebut bahwa selama ini sumber daya alam di era kepemimpinan Jokowi hanya dikuasi oleh segelintir orang saja.

    4. Promosi KIP Kuliah

    Jokowi mengenalkan salah satu kartu saktinya yang akan diberlakukan jika terpilih kembali, yaitu Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah). Kartu ini diperuntukkan bagi lulusan SMA dan SMK yang ingin melanjutkan kuliah, namun tak memiliki biaya. Ia berujar kartu dapat digunakan untuk yang ingin kuliah, baik di dalam maupun luar negeri.

    Baca: Jokowi Promosikan KIP Kuliah di Deklarasi Alumni Jabar Ngahiji

    Jokowi mengaku mengeluarkan KIP Kuliah karena pernah merasakan betapa sulitnya sekolah dan kuliah karena orang tuanya tidak mampu. Sejalan dengan program pembangunan sumber daya manusia berkualitas, Jokowi tidak ingin ada anak-anak yang tidak bisa kuliah karena biaya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.