Tanggapi AHY, Kubu Jokowi: Bibit Radikalisme Tumbuh di Era SBY

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kader Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memberi pernyataan pers di hari ulang tahunnya serta dukungan kepada Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di rumah SBY, Kuningan, Jakarta, Jumat, 10 Agustus 2018. Tempo Rezki Alvionitasari

    Kader Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memberi pernyataan pers di hari ulang tahunnya serta dukungan kepada Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di rumah SBY, Kuningan, Jakarta, Jumat, 10 Agustus 2018. Tempo Rezki Alvionitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo atau Jokowi - Ma'ruf Amin, Raja Juli Antoni, mengatakan sistem demokrasi di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) banyak menelurkan bibit-bibit radikalisme. 

    Baca: Pidato Politik, AHY Singgung Hukum yang Tajam ke Oposisi

    "Era Pak SBY nampaknya memang terjadi situasi yang kondusif dan damai. Tapi pada saat yang bersamaan, justru diam-diam kekuatan radikal, pro khilafah, kekuatan pro intoleransi itu menguat," kata Raja Juli menanggapi pernyataan Agus Harimurti Yudhoyono (SHY) saat dihubungi Tempo, Sabtu, 2 Maret 2019.

    Sebelumnya, Komandan Satuan Tugas Bersama Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono menyebut situasi politik dan demokrasi Indonesia yang susah payah dibangun sejak 1998 kini malah mengalami kemunduran. AHY mengatakan, situasi ini tercermin semakin nyata di tengah kontestasi Pemilihan Umum 2019

    Hal ini diungkapkan AHY dalam pidato politiknya, yang digelar di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, kemarin malam. AHY menilai meruaknya fanatisme yang berlebihan menjadi contoh nyata buruknya demokrasi saat ini. Hal ini, ia sebut yang pada akhirnya, justru kontra-produktif dengan tujuan memajukan bangsa dan negara itu sendiri.

    Politikus Partai Solidaritas Indonesia ini menilai sepanjang 10 tahun kepemimpinan SBY, pembiaran terhadap benih-benih radikalisme dan intoleransi ini terjadi. Hal ini, kata dia, tak terlepas dari sifat SBY yang justru kompromistis dan akomodatif terhadap pergerakan terkait.

    "Justru era Pak Jokowi itu terkena impact-nya. Ketika kotak Pandora dibuka (di era SBY), justru persoalan kebangsaan kita justru lagi rapuh-rapuhnya nya karena 10 tahun pembiaran oleh Pak SBY itu," kata Raja Juli.

    Simak juga: AHY Sebut Politik dan Demokrasi Indonesia Alami Kemunduran

    Karena itu, kata Raja Juli, sejak menjabat sebagai Presiden pada 2014, Jokowi banyak melakukan tindakan tegas. Terbitnya Perppu Ormas dan penegasan bahwa khilafah bertentangan dengan Pancasila. "Itu kan sesuatu yang sangat wajar dilakukan untuk menjaga kesatuan NKRI, yang selama ini dibiarkan oleh Pak SBY. Itu yang jadi bibit merusak demokrasi," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.