Diskusi Empat Pilar MPR Bahas Potensi Isu SARA dalam Pemilu

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Diskusi Empat Pilar MPR di Media Center Parlemen, Gedung Nusantara III, Kompleks Gedung MPR/DPR/DPD RI, Senayan, Jakarta, Jumat, 1 Maret 2019.

    Diskusi Empat Pilar MPR di Media Center Parlemen, Gedung Nusantara III, Kompleks Gedung MPR/DPR/DPD RI, Senayan, Jakarta, Jumat, 1 Maret 2019.

    INFO NASIONAL - Isu suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA), adalah isu yang masih mengganjal terutama menjelang Pemilu Serentak 2019. Sejatinya, isu SARA sudah tidak lagi menjadi bahan perdebatan di Indonesia. Sebab, para pendiri bangsa Indonesia sejak dahulu sudah merumuskan dan menjadi satu kesepakatan bersama, bahwa keberagaman adalah kekayaan bangsa Indonesia, bahkan menjadi elemen utama terbentuknya negara Indonesia.

    Para pendiri bangsa dahulu dan masyarakat Indonesia saat ini sudah memahami betul, bahwa perbedaan yang sangat besar berpotensi terjadi gesekan-gesekan di tengah-tengah masyarakat yang mengancam kebhinnekaan Indonesia apa pun momennya.

    Tapi, yang dirasakan masyarakat terutama era kekinian pasca reformasi, gesekan yang terjadi karena isu SARA selalu terjadi pada saat momen pemilu atau pilpres. Ini menjadi pertanyaan besar publik, apakah sistem pemilu dan pilpres itu sendiri yang makin memperuncing gesekan-gesekan akibat isu SARA.

    Wacana tersebut menjadi pembahasan seru dalam ‘Diskusi Empat Pilar MPR RI’, diskusi rutin yang diselenggarakan atas kerja sama Biro Humas Setjen MPR RI dengan Koordinatoriat Wartawan. Acara yang digelar di Media Centre Parlemen, Gedung Nusantara III, Kompleks Gedung MPR/DPR/DPD RI, Senayan, Jakarta, Jumat, 1 Maret 2019, itu menghadirkan dua narasumber, yaitu Wakil Ketua Fraksi PPP MPR RI Syaifullah Tamliha dan Manager Riset dan Program The Indonesia Institute (TII) Yossa Nainggolan dengan moderator Marhadi.

    Dalam pemaparannya, Syaifullah Tamliha mengungkapkan bahwa hampir semua pemilihan presiden di dunia, temasuk negara besar Amerika Serikat (AS), isu SARA tetap ada. Dia mengamati, kemenangan Donald Trump itu juga karena membawa isu agama. Trumph didukung para pendeta yang tidak menghendaki Hillary menjadi Presiden.

    Isu SARA ini juga terjadi di Yaman antara Houthi dan Presiden Yaman Abed Rabbo Mansour Hadi. Presiden Hadi diklaim sebagai beraliran Sunni dan Houthi beraliran Syiah. Konflik antara Sunni dan Syiah selalu ada di Yaman atau tidak pernah akur sampai ke ranah politik.

    “Nah, di Indonesia, potensi SARA bukan lagi antar agama, tetapi antar aliran dalam satu agama dan itu makin kencang muncul bergentayangan di media-media sosial hampir setiap hari. Jadi, politik aliran dan aliran agama yang paling berpengaruh pada Pilpres 2019. Coba telusuri media-media sosial, banyak itu,” ujar Tamliha.

    Dikatakan Tamliha, isu SARA serta aliran di Pilpres 2019 akan sangat berbahaya dan berpotensi konflik. Namun, Tamliha mengapresiasi para elit organisasi agama yang besar, di mana mereka sama-sama memiliki pandangan yang demokratis terhadap pilpres. Malah semakin demokratisnya, ada keluarga kalangan elit organisasi agama yang berbeda-beda pilihannya. Dan ada organisasi agama besar yang memiliki basis massa yang berbeda pilihan capresnya.

    Dalam kesempatan yang sama, Yossa Nainggolan mengungkapkan bahwa munculnya isu SARA memang ada sejak dulu, dan bukan hanya dalam pilpres saja. Karena memang, isu keragaman dan pluralisme di Indonesia tidak akan pernah selesai.

    “Dalam konteks kekinian, mengapa isu SARA tetap ada dan makin meruncing, karena ada sisi pemanfaatan. Isu SARA akan menggenjot popularitas dan mendegradasi popularitas lawan. Media sosial ternyata menjadi lahan subur memproduksi isu SARA. Jadi memang, kita semua mesti bijak dalam hal itu,” katanya.

    Yossa melihat, isu SARA berkaitan erat dengan pemahaman yang baik. Pemahaman yang baik, berkaitan erat dengan edukasi dan pendidikan yang baik juga. Pemahaman tentang keberagaman mesti diimplementasikan dalam kurikulum pendidikan.

    “Menurut saya, memang dalam aspek pendidikan dan edukasi soal hal tersebut masih agak kurang, sehingga masih banyak pihak yang kemudian belum bisa memahami perbedaan dan keberagaman yang ada. Inilah peran negara, harus hadir terutama dalam bidang pendidikan itu, agar pemahaman yang luas akan keberagaman dan kebhinnekaan tercipta dengan baik,” ujarnya. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sulli dan Artis SM Entertaintment yang juga Tewas Bunuh Diri

    Sulli, yang bernama asli Choi Jin-ri ditemukan tewas oleh managernya pada 14 Oktober 2019. Ada bintang SM lainnya yang juga meninggal bunuh diri.