Tiga Fakta Keributan di Acara NU yang Melibatkan Massa FPI

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan laskar FPI berorasi saat mengawal pemeriksaan Bahar bin Smith di depan Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis, 6 Desember 2018. Bahar bin Smith diperiksa terkait adanya dua laporan atas dirinya. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Puluhan laskar FPI berorasi saat mengawal pemeriksaan Bahar bin Smith di depan Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis, 6 Desember 2018. Bahar bin Smith diperiksa terkait adanya dua laporan atas dirinya. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Acara hari ulang tahun ke93 Nahdlatul Ulama atau NU pada hari Rabu, 27 Februari 2019 di Kota Tebingtinggi, Sumatera Utara, diwarnai keributan. Keributan itu dipicu oleh sejumlah orang yang berusaha masuk ke lokasi kegiatan sembari meminta acara dibubarkan. Berikut tiga fakta dalam peristiwa itu:

    1. Diduga dilakukan anggota Front Pembela Islam

    Kepolisian menetapkan anggota FPI tersangka keributan di acara harlah ke93 NU. "Tersangka 11 orang," kata Kepala Bidang Humas Polda Sumut, Komisaris Besar Tatan Dirsan Atmaja, dihubungi, Kamis, 28 Februari 2019. Belakangan diketahui massa yang berdemo itu berasal dari FPI Tebingtinggi. Namun, Tatan tak menyebutkan identitas tersangka yang semula delapan orang.

    Baca: NU Bantah Terpecah karena Pilpres

    2. Kericuhan bermula saat acara yang digelar di Lapangan Srimesing, Kota Tebingtinggi, Sumatera Utara itu akan mencapai puncaknya. "Peristiwa terjadi di penghujung acara sekitar pukul 11.40," kata Tatan.

    Sejumlah orang yang belakangan diketahui sebagai anggota FPI berusaha masuk ke lokasi acara sambil berteriak-teriak. Mereka meminta acara itu dibubarkan. Selain itu, menurut Tatan, sekelompok orang itu juga menghasut ibu-ibu yang tengah ikut pengajian untuk berdemo membubarkan acara harlah NU.

    Baca: Munas Alim Ulama NU Tak Dihadiri Sejumlah Kiai Sepuh

    Melihat keributan itu, kata Tatan, petugas pengamanan berupaya meminta mereka tidak membuat kegaduhan. Namun, imbauan itu tidak digubris. Akhirnya polisi menahan mereka ke Kepolisian Resor Tebingtinggi.

    3. Terancam hukuman enam tahun penjara

    11 tersangka dipersalahkan melanggar Pasal 160 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang penghasutan dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara. Hingga Kamis malam, Tempo masih berusaha memperoleh konfirmasi dari FPI atas penetapan tersangka terhadap 11 anggotanya.

    CAESAR AKBAR | ROSSENO AJI

       


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.