Panglima Ungkap Penyebab Konflik TNI dan Polri

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasukan Paskhas TNI AU dan anggota Brimob Polri, mengikuti upacara gelar Operasi Penegakan Ketertiban dan Yustisi POM TNI Tahun 2019 di pimpin Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat, 8 Februari 2019. TEMPO/Imam Sukamto

    Pasukan Paskhas TNI AU dan anggota Brimob Polri, mengikuti upacara gelar Operasi Penegakan Ketertiban dan Yustisi POM TNI Tahun 2019 di pimpin Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat, 8 Februari 2019. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengungkapkan sejumlah penyebab gesekan antara aparat TNI dan Polri. "Penyebab pertama gesekan adanya provokasi. Karena TNI Polri punya kekuatan besar," kata Hadi dalam Rapat Pleno Khusus di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 27 Februari 2019.

    Baca: Panglima TNI Kirim Prajurit untuk Atasi Kebakaran Hutan Riau

    Hadi mengatakan, provokasi tersebut muncul untuk menciptakan konflik. Sebab, kekuatan kedua instansi cukup besar, yaitu 480 ribu personil TNI dan 440 ribu personil kepolisian. Gesekan tersebut, kata Hadi, terjadi di sebagian daerah pada waktu dan tempat di luar markas. Misalnya, adanya prajurit yang bermental tidak baik pergi ke kafe atau diskotik pada pukul 12 malam.

    Penyebab lainnya, Hadi menyebutkan disiplin oknum prajurit yang rendah. Disiplin yang rendah membuat mereka berupaya menyelesaikan masalah tanpa melapor kepada komandannya. "Contoh mereka berantem ada masalah terus selesaikan sendiri tanpa lapor pimpinan. Apalagi biasanya dilaksanakan anak-anak yang emosinya masih tinggi. Biasa itu terjadi di lapangan," kata dia.

    Untuk mencegah konflik itu terjadi, Hadi mengaku memprakarsai sinergi kedua instansi tersebut untuk mempersatukan dan mensosialisasikan agar tataran paling bawah tidak pernah terjadi benturan. "Hasilnya sangat baik. Saat ini perkelahian TNI Polri turun sangat tajam," ujarnya.

    Menurut Hadi, hubungannya dengan Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian juga bisa menjadi contoh kerukunan antara TNI dan Polri. Dia mengaku hubungannya dengan Tito dekat lahir dan batin. "Tidak hanya casingnya saja, tapi simcardnya juga," kata dia.

    Selain itu, Hadi juga meminta satuan TNI memperhatikan dan meningkatkan kesejahteraan dan disiplin para anggotanya. Misalnya dalam hal kenaikan tunjangan, Hadi meminta prajurit yang bertugas di daerah sulit maupun rawan menerima tunjangan lebih besar dari prajurit yang bertugas di daerah aman.

    Baca: Koalisi Masyarakat Tolak TNI di Posisi Sipil karena Alasan Ini

    "Saat ini Babinsa juga nerima variasi Rp 900 ribu sampai dengan Rp 1,2 juta tergantung wilayah yang mereka tempati. Kalau sulit transportasi, mereka mendapatkan Rp 1,2 juta per bulan langsung masuk ke rekening di rumah yang bawa istrinya," kata Hadi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.