Polri Siapkan Personel untuk Bebaskan 2 WNI Sandera Abu Sayyaf

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 3 WNI korban penculikan milisi Abu Sayyaf di Filipina dibebaskan pada hari Jumat, 14 September 2018. [aAP]

    3 WNI korban penculikan milisi Abu Sayyaf di Filipina dibebaskan pada hari Jumat, 14 September 2018. [aAP]

    TEMPO.CO, Jakarta - Polri menyiapkan personel terbaiknya untuk operasi penyelamatan dua warga negara Indonesia (WNI) yang disandera oleh kelompok teroris pimpinan Abu Sayyaf di Filipina. "Kami mempersiapkan personel-personel yang sudah memiliki pengalaman, memiliki kompetensi, dan mengetahui sedikit-banyak situasi Filipina," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo saat dikonfirmasi, Ahad, 24 Februari 2019.

    Meski begitu, ujar Dedi, Polri masih menunggu keputusan Kementerian Luar Negeri sebagai leading sector dalam penanganan kasus ini.

    Baca:Polisi Pilih Langkah Diplomasi Bebaskan 2 WNI Sandera Abu Sayyaf

    "Apa yang dibutuhkan dalam negosiasi dengan penyandera akan diputuskan oleh Kemenlu," kata Dedi. Sejauh ini, Polri telah berkoordinasi dengan Kemenlu, KBRI di Filipina, TNI, hingga kepolisian setempat. Dalam operasi ini, keselamatan sandera adalah yang utama.

    Sebelumnya beredar video yang memperlihatkan dua pria, yang diduga warga negara Indonesia, tak berdaya ditodong dengan golok. Belakangan diketahui kedua orang di video itu berasal dari Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Hariadin dan Heri Ardiasyah.

    Baca: Abu Sayyaf Unggah Video Sandera WNI, Kemenlu: Itu Sudah Sering

    Keduanya tidak berpakaian dan matanya ditutupi dengan kain hitam. Di sekeliling dua pria itu tampak sejumlah orang bertopeng yang membawa senjata diduga kelompok teroris pimpinan Abu Sayyaf di Filipina.

    Penyanderaan terhadap dua WNI diketahui melalui video yang viral di Facebóok sejak kemarin. Dalam video yang berdurasi 30 detik itu, korban yang disandera meminta perhatian dari Pemerintah Indonesia, khususnya presiden untuk segera membebaskan mereka. Abu Sayyaf meminta tebusan sebesar Rp10 miliar kepada Pemerintah Indonesia untuk membebaskan kedua korban.

    ANDITA RAHMA | M. ROSSENO AJI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.