Romahurmuziy PPP Minta Neno Warisman Bertobat

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhammad Romahurmuziy bersama Sekretaris Jenderal PPP Arsul Sani usai pertemuan dengan Presiden Joko Widodo dan Koalisi Indonesia Kerja di kawasan Menteng, Jakarta, Selasa, 15 Januari 2019. Tempo/Syafiul Hadi

    Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhammad Romahurmuziy bersama Sekretaris Jenderal PPP Arsul Sani usai pertemuan dengan Presiden Joko Widodo dan Koalisi Indonesia Kerja di kawasan Menteng, Jakarta, Selasa, 15 Januari 2019. Tempo/Syafiul Hadi

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan atau PPP Romahurmuziy berharap Neno Warisman bertobat setelah membacakan puisi kontroversial pada malam "Munajat 212" di Monas, Jakarta Pusat, Kamis, 21 Februari 2019 malam.

    Baca juga: Puisi Lengkap Neno Warisman di Acara Munajat 212

    "Saya berharap Mbak Neno bertobat karena merasa dirinya yang paling benar dan beragamalah dengan sejuk," kata Rommy seusai acara Halaqah Ulama dengan tema "Merawat Ukhuwah Islamiyah, melawan Hoax dan Fitnah" di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu, 23 Februari 2019.

    Rommy menilai puisi yang dibacakan Neno pada Munajat 212 mencerminkan sikap intoleran dan hiperbolisme dalam beragama.

    Puisi itu juga dinilai berpotensi mengadu domba masyarakat serta menyulut kebencian.

    "Karena seolah-olah kemudian dirinya merasa yang paling benar dan inilah sebenarnya sebuah paham intoleran yang hari ini semakin berkembang dan tersematkan kepada kelompok pendukung (capres-cawapres) 02," kata dia.

    Ia mengatakan sesuai dengan isi puisi tersebut menggambarkan bahwa apabila capres-cawapres nomor urut 02 kalah pada Pemilu 2019 maka tidak ada yang menyembah Allah SWT.

    "Umat Islam mayoritas itu kan ada di pasangan capres-cawapres 01, jadi kalau dia mengatakan tidak ada yang menyembah memangnya yang di 01 itu kafir semua?" ucapnya, mempertanyakan.

    Menurut dia, melalui puisi itu Neno seolah telah mendahului ketentuan Tuhan dengan menghakimi keagamaan seseorang dengan menyiratkan seolah-olah pada pihak pasangan capres-cawapres 01 tidak ada yang beragama. Padahal keagamaan seseorang, lanjut Rommy, baru akan dinilai oleh Tuhan pada saat Hari Kiamat.

    "Saya hanya mengingatkan kepada Mbak Neno Warisman janganlah beragama dengan cara yang demikian karena beragama dengan cara yang demikian menunjukkan awal dari kesesatan. Awal dari kesesatan itu adalah manakala dirinya merasa yang paling benar," ujar dia.

    Baca juga: Soal Doa Neno Warisman, PBNU: Yang Disembah Tuhan, Bukan Pilpres

    Puisi Neno Warisman yang kontroversial pada penggalan berikut: "Namun, kami mohon jangan serahkan kami kepada mereka yang tak memiliki kasih sayang pada kami dan anak, cucu kami dan jangan, jangan kau tinggalkan kami dan menangkan kami. Karena jika engkau tidak menangkan kami, (kami) khawatir Ya Allah, kami khawatir Ya Allah, tak ada lagi yang menyembahmu." "Jadi jangan diputarhaluankan umat ini dengan sebuah penyesatan-penyesatan yang tidak perlu. Mari kita meluruskan pemilih kita dengan persepsi politik yang benar yang berbasiskan kepada fakta," tutur Rommy.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?